Loading...
Logo TinLit
Read Story - Maju Terus Pantang Kurus
MENU
About Us  

Berkat dukungan Wina, Griss bisa sedikit memaafkan dirinya sendiri. Hari ini, tepatnya seminggu setelah absen dari kegiatan rutinnya sebagai seorang anak SMA, Griss kembali bersekolah. Dia tidak lagi memprotes usulan Indira soal pemantauan. Katanya mamanya itu diam-diam menyuruh seseorang untuk jadi mata-mata.

Sejak diketahui memiliki gangguan makan—Griss akhirnya mengunjungi psikiater—Griss disarankan melakukan terapi dan rajin konsultasi. Griss juga disarankan untuk rajin berolahraga. Katanya, olahraga bisa membantu menghilangkan stress atau perasaan cemas lainnya. Pola makan Griss dijaga ketat. Pergerakannya juga selalu diawasi oleh Indira dan Frissi. Kadang, Griss merasa dirinya seperti buronan, tapi dia tidak boleh protes karena ini demi kebaikannya.

Cewek dengan rambut sepunggung itu berjalan melewati deretan kelas Bahasa untuk sampai di tangga. Griss memutuskan untuk tidak naik lift meski badannya belum sepenuhnya fit.

Sepanjang perjalanan menuju kelasnya di lantai dua, Griss merasa ada banyak mata yang memperhatikannya. Mungkin karena perubahan Griss yang tiba-tiba. Ya, hari ini mungkin Griss terlihat lebih pucat tanpa makeup tipis yang biasanya dia pakai, dia juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kini, BB Griss berada di angka 55 berkat kebiasaan buruknya.

Seperti kata Wina, Griss harus belajar menerima dirinya sendiri. Be yourself and love yourself. Griss sedang mencoba untuk tampil apa adanya dan tidak lagi memaksa untuk bisa diterima.

Tak lama setelah menaiki satu per satu anak tangga, akhirnya Griss sampai di pintu kelas. Cewek itu terkejut ketika beberapa orang berdiri di depan pintu untuk menyambutnya. Bahkan, matanya membulat tak percaya ketika telinganya mendengar sebuah ledakan dan matanya melihat kertas-kertas kecil berterbangan di atas kepalanya.

"Welcome back, Grissilia!" seru Wina yang memegang dua buah konfeti di tangannya.

Awan, yang berada di sebelah kanan Wina, bertepuk tangan heboh, diikuti yang lainnya. "Selamat datang kembali, silakan membayar kas."

Setelah mengucapkan itu, Awan panen banyak sorakan. Namun, hal itu sama sekali tidak mengganggu haru yang meledak-ledak di dada Griss. Cewek itu menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Kalian nyiapin ini semua?" tanya Griss.

"Iya, dong!" jawab Iridessa, seksi kebersihan kelas.

Selapis bening membayang di kedua mata Griss. Saat teman-teman sekelasnya kompak bertanya kabar Griss sambil mempersilakannya masuk ke kelas, Griss tidak bisa lagi menahan desakan air matanya.

"Makasih banyak," ucapnya. Kejutan kecil yang dipersiapkan Wina dan teman-teman sekelasnya, sukses membuat Griss meraung saking terharunya.

Siangnya, tepatnya setelah istirahat pertama berakhir dan pelajaran kelima dimulai, Griss izin kepada ketua kelas untuk turun ke perpustakaan lantai satu. Griss harus menyerahkan tugas ke guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang notabene adalah seorang guru perpus. Tugasnya cukup banyak, perlu waktu seharian untuk Griss menyelesaikannya. Untung saja, Wina berbaik hati memberikan salinan materi.

Griss berjalan seorang diri, sengaja menolak ditemani Wina karena Wina ada jadwal rapat bersama teman-teman ekskulnya. Lagi pula Griss sudah bukan anak PAUD lagi. Dan, lingkungan tempatnya berada saat ini adalah sekolah. Wina tidak perlu mencemaskannya seolah Griss bepergian seorang diri di pegunungan Himalaya.

Tanpa sadar, Griss menarik napasnya cukup panjang. Kemudian, mengembuskannya perlahan. Seminggu tidak menjejakkan kaki di tempat itu membuatnya merasakan rindu. Griss rindu keramaian yang tercipta karena orang-orang yang berdesakkan di kantin, rindu suara bel yang berbunyi setiap jam berganti, rindu suasana perpustakaan yang tenang dan sunyi, juga rindu pada seseorang yang sudah lebih dari seminggu ini tidak pernah dia hubungi. Meski orang itu sering membuatnya kesal, Griss tidak bisa berbohong dengan berkata, "Gue baik-baik aja tanpa ngobrol sama dia."

Griss berhenti melangkah satu meter di samping pintu perpustakaan. Napasnya memberat saat melihat sosok yang baru saja di batinnya keluar dari perpustakaan. Griss yakin orang itu melihatnya karena mereka sempat benar-benar berpapasan, tapi apa yang diharapkan Griss tidak jadi kenyataan. Juna hanya meliriknya sekilas, kemudian berjalan seolah mereka adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Karena itulah, Griss mengurungkan niatnya untuk menyapa, meski hatinya meronta-ronta.

Berapa kilo yang hilang dari tubuh lo sejak lo nggak makan bareng gue, Jun?

"Griss?"

Sebuah panggilan membuyarkan lamunan Griss.

"Kok, ngelamun?"

Griss tersenyum malu. Lalu mengangguk singkat kepada Mira sebagai bentuk keramahan. "Kak Mira mau ke perpus juga?"

Mira melirik tumpukan buku di tangannya, kemudian mengangguk. "Mau ngembaliin buku-buku ini. Kamu?"

Keduanya berjalan bersebelahan memasuki pintu perpustakaan.

"Aku mau setor tugas-tugas yang nggak bisa dipegang selama aku absen."

Mira mengangguk-angguk. "Oh iya, aku sempat dengar dari teman-teman Chill Zone kalau kamu sakit. Sekarang sudah sembuh?"

"Seperti yang Kak Mira lihat."

Basa-basi itu tidak bertahan lama. Setelah masuk ke perpustakaan, Griss langsung mencari guru pengampunya, sementara Mira menuju deretan rak IPA untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya.

Akan tetapi, saat Griss akan kembali ke kelas karena urusannya sudah selesai, Mira kembali memanggilnya. Model kebanggaan sekolah itu menarik pergelangan tangan Griss dan membawanya menuju meja baca paling ujung. Wajah Mira terlihat begitu serius ketika dia berkata, "Aku dengar dari Jayan, sejak kamu sakit, Juna belum makan makanan berat. Anak-anak mencoba membujuk Juna biar mau makan, tapi nggak pernah berhasil."

^^^

Juna ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja setelah memutuskan untuk menjauhi Griss, bahwa dia bisa makan dengan baik tanpa kehadiran cewek itu. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Rasa bersalah membuat Juna tidak bisa menghilangkan wajah Griss dari kepala, bayangan saat Griss pingsan di rumahnya membuat Juna selalu mengutuk dirinya, dan bagian paling menyesakkan dari itu semua adalah kerinduan yang menderanya.

Bohong kalau Juna tidak memikirkan Griss, meski di mata teman-temannya dia terlihat seperti kacang lupa kulitnya. Juna memang merasa dirinya jahat. Juna merasa dirinya tidak bisa dimaafkan karena telah membuat Griss menderita. Itulah mengapa, dia memilih menjauh, bahkan setelah Griss sudah kembali ke sekolah, seperti saat di depan perpustakaan tadi.

Juna sengaja menjadi asing di hadapan Griss, padahal dia ingin sekali memeluk cewek itu begitu melihatnya. Sama sepertinya, Griss makin kehilangan berat badannya setelah seminggu tidak masuk sekolah untuk pemulihan. Hal itu membuat dada Juna ngilu. Juna mungkin bisa mengabaikan dirinya yang belakangan jarang makan, jarang tidur, jarang berolahraga, bahkan jarang berbicara, tapi hatinya tidak bisa diam saja saat melihat Griss menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.

Apa itu sorot kerinduan? Atau justru kekecewaan? Juna ingin membawa Griss ke kantin, memesankannya banyak makanan, lalu bertanya langsung soal arti tatapan itu. Namun, lagi-lagi rasa bersalah menyiksa Juna, menyuruh Juna pergi, menyuruh Juna menghilang dari radar Griss.

 

Welcome back, Grizzly. Gue janji, gue nggak akan nyusahin lo lagi. Kesepakatan kita cukup sampai di sini. Gue sayang sama lo.

 

-Juna

 

Juna menulis kalimat itu di atas notes, yang tak akan pernah Griss baca karena hanya Juna tempelkan di laci mejanya, dengan tangan gemetar karena lambungnya belum tersentuh apa pun sejak kemarin.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Unexpectedly Survived
764      644     0     
Inspirational
Namaku Echa, kependekan dari Namira Eccanthya. Kurang lebih 14 tahun lalu, aku divonis mengidap mental illness, tapi masih samar, karena dulu usiaku masih terlalu kecil untuk menerima itu semua, baru saja dinyatakan lulus SD dan sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Karenanya, psikiater pun ngga menyarankan ortu untuk ngasih tau semuanya ke aku secara gamblang. ...
Kelana
2802      1860     0     
Romance
Hidup adalah perjalanan tanpa peta yang pasti, di mana setiap langkah membawa kita menuju tujuan yang tak terduga. Novel ini tidak hanya menjadi cerita tentang perjalanan, tetapi juga pengingat bahwa terbang menuju sesuatu yang kita yakini membutuhkan keberanian dengan meninggalkan zona nyaman, menerima ketidaksempurnaan, dan merangkul kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Selam...
Di Antara Luka dan Mimpi
3135      2046     71     
Inspirational
Aira tidak pernah mengira bahwa langkah kecilnya ke dalam dunia pondok akan membuka pintu menuju mimpi yang penuh luka dan luka yang menyimpan mimpi. Ia hanya ingin belajar menggapai mimpi dan tumbuh, namun di perjalanan mengejar mimpi itu ia di uji dengan rasa sakit yang perlahan merampas warna dari pandangannya dan menghapus sebagian ingatannya. Hari-harinya dilalui dengan tubuh yang lemah dan ...
H : HATI SEMUA MAKHLUK MILIK ALLAH
113      101     0     
Romance
Rasa suka dan cinta adalah fitrah setiap manusia.Perasaan itu tidak salah.namun,ia akan salah jika kau biarkan rasa itu tumbuh sesukanya dan memetiknya sebelum kuncupnya mekar. Jadi,pesanku adalah kubur saja rasa itu dalam-dalam.Biarkan hanya Kau dan Allah yang tau.Maka,Kau akan temukan betapa indah skenario Allah.Perasaan yang Kau simpan itu bisa jadi telah merekah indah saat sabarmu Kau luaska...
Loveless
28566      12582     616     
Inspirational
Menjadi anak pertama bukanlah pilihan. Namun, menjadi tulang punggung keluarga merupakan sebuah keharusan. Itulah yang terjadi pada Reinanda Wisnu Dhananjaya. Dia harus bertanggung jawab atas ibu dan adiknya setelah sang ayah tiada. Wisnu tidak hanya dituntut untuk menjadi laki-laki dewasa, tetapi anak yang selalu mengalah, dan kakak yang wajib mengikuti semua keinginan adiknya. Pada awalnya, ...
Dimension of desire
800      601     0     
Inspirational
Bianna tidak menyangka dirinya dapat menemukan Diamonds In White Zone, sebuah tempat mistis bin ajaib yang dapat mewujudkan imajinasi siapapun yang masuk ke dalamnya. Dengan keajaiban yang dia temukan di sana, Bianna memutuskan untuk mencari jati dirinya dan mengalami kisah paling menyenangkan dalam hidupnya
Warisan Tak Ternilai
1380      739     0     
Humor
Seorang wanita masih perawan, berusia seperempat abad yang selalu merasa aneh dengan tangan dan kakinya karena kerap kali memecahkan piring dan gelas di rumah. Saat dia merenung, tiba-tiba teringat bahwa di dalam lingkungan kerja anggota tubuhnya bisa berbuat bijak. Apakah ini sebuah kutukan?
Sebab Pria Tidak Berduka
379      304     1     
Inspirational
Semua orang mengatakan jika seorang pria tidak boleh menunjukkan air mata. Sebab itu adalah simbol dari sebuah kelemahan. Kakinya harus tetap menapak ke tanah yang dipijak walau seluruh dunianya runtuh. Bahunya harus tetap kokoh walau badai kehidupan menamparnya dengan keras. Hanya karena dia seorang pria. Mungkin semuanya lupa jika pria juga manusia. Mereka bisa berduka manakala seluruh isi s...
Fidelia
4145      2179     1     
Fantasy
Bukan meditasi, bukan pula puasa tujuh hari tujuh malam. Diperlukan sesuatu yang sederhana tapi langka untuk bisa melihat mereka, yaitu: sebentuk kecil kejujuran. Mereka bertiga adalah seorang bocah botak tanpa mata, sesosok peri yang memegang buku bersampul bulu di tangannya, dan seorang pria dengan terompet. Awalnya Ashira tak tahu mengapa dia harus bertemu dengan mereka. Banyak kesialan menimp...
UNTAIAN ANGAN-ANGAN
1000      775     0     
Romance
“Mimpi ya lo, mau jadian sama cowok ganteng yang dipuja-puja seluruh sekolah gitu?!” Alvi memandangi lantai lapangan. Tangannya gemetaran. Dalam diamnya dia berpikir… “Iya ya… coba aja badan gue kurus kayak dia…” “Coba aja senyum gue manis kayak dia… pasti…” “Kalo muka gue cantik gue mungkin bisa…” Suara pantulan bola basket berbunyi keras di belakangnya. ...