(Catatan tahun 2016, dari Gelisa Sundana Cloura Naurza Purmadzaki)
Aku tak pernah membayangkan cinta. Merasa terpanah pada seseorang saja belum pernah.
Semasa sekolah, aku hanya menjadi remaja yang serius. Menyaksikan teman-teman jatuh cinta antar sekelas, dengan kakak tingkat, bertukar surat, atau berjalan berdua sepulang sekolah. Semuanya tampak seperti kisah dramatis yang tidak kusukai.
Di masa putih abu-abu, cinta datang dalam banyak rupa. Ada yang terang-terangan memperlihatkan rasa, ada yang menyembunyikannya rapat. Ada cinta dalam tawa, dalam genggaman tangan, juga cinta diam-diam yang hanya disimpan di sudut mata.
Aku? Selalu jadi penonton dari kejauhan.
Dan aku berfikir mungkin tidak ditakdirkan untuk itu. Tapi ternyata tidak.
Kini aku tahu, rasa kagum bisa datang tiba-tiba dan tanpa aba-aba, tanpa rencana, bahkan tanpa alasan yang masuk akal.
Sejak hari pertama ospek, aku memperhatikan seorang dosen muda dari kejauhan.
Namanya Pak Natapurna Pradiksa.
Beliau adalah dosen Teknik Informatika di kampus lamaku, bukan di jurusanku, bukan pengajarku, bahkan tak mengenalku.
Tapi entah bagaimana, tiap kali beliau lewat, auranya terasa berbeda.
Tenang. Rapi. Penuh wibawa. Ramah tanpa berlebihan. Tidak haus perhatian. Tidak sembarang dekat dengan perempuan.
Sikapnya seperti algoritma yang elegan, teratur, tanpa perlu dijelaskan.
Dan aku, entah kenapa, tidak bisa mengalihkan pandangan.
Cinta pertama, katanya, selalu aneh.
Bagiku, cinta pertama bukan soal rangkulan atau saling tatap. Tapi cukup menjadi penonton yang diam-diam bahagia ketika ia hadir, meskipun tak dihiraukan.
Kami pertama kali berinteraksi saat aku nyaris salah masuk toilet di hari pertama ospek.
Aku yang masih panik sebagai mahasiswi baru nyaris membuka pintu bertuliskan “Pria”.
“Jangan panik. Lain kali perhatikan dulu tanda di depan sini,” ucapnya sambil menunjuk tulisan di pintu.
“Masih maba, ya? lanjutnya dengan senyum samar.
Aku mematung. Bahkan lupa mengucapkan terima kasih.
Sejak itu, wajahnya tersimpan di memori.
Aku mulai memperhatikannya lebih sering saat lewat koridor, saat tak sengaja melihatnya dari tangga gedung utama, atau saat beliau duduk sendirian membaca sesuatu.
Semua hanya diam-diam.
Aku tidak pernah menyapa, bahkan saat berpapasan, aku hanya menunduk dan berpura-pura tak melihat.
Tapi detak jantung selalu tak bisa diatur.
Kisah ini, aku tuliskan di buku kecil yang kusebut “buku cerita.”
Aku menulis di sini sejak memilih berdongeng tanpa suara.
Buku ini bernama “buku cerita” karena awalnya aku tak tahu harus menamai apa.
Kini buku ini menyimpan lebih dari dongeng yaitu suara hati yang tak bisa disuarakan di rumah.
Di rumah, suasana selalu terasa serius.
Papah dan Mamah orang baik, mereka membelikan segala kebutuhan. Tapi tidak terbiasa bertanya “kamu suka nggak jurusannya?” atau “kamu bahagia kuliah di sana?”
Dulu aku kuliah di jurusan yang mereka pilihkan.
Tapi rasanya tersesat.
Sampai akhirnya memutuskan untuk pindah.
Mengulang dari semester satu lagi. Kali ini di kampus pilihanku sendiri. Sekarang aku sudah berada di semester 3 lagi. Tak terasa dahulu aku pernah melewati semester 3 kemudian mengulang lagi dari awal.
Tetapi tak ada perubahan, aku masih menyimpan rasa yang tidak bisa dirunjukkan, bahkan pada teman terdekat.
Pak Natapurna bukan milikku.
Bahkan ketika suatu hari beliau datang ke kelas untuk mengambil buku yang tertinggal dan berbicara langsung padaku, aku hanya bisa menyembunyikan kagum. Saat itu, ada cincin di jari manisnya.
Dan seketika... aku paham.
Sikap ramahnya milik semua orang.
Tapi bukan salahku telah jatuh cinta padanya.
Rasa ini datang begitu saja, bukan disengaja dan aku hanya ingin menuliskanya di sebuahh tempat yang tak akan terbaca oleh siapa pun.
tanaman.berduri



