Loading...
Logo TinLit
Read Story - Tebing Cahaya
MENU
About Us  

Bunyi klakson jeep tuanya melengking seperti ayam dipijit—serak, panjang, dan memekakkan telinga. Roni memukul-mukul setir dengan gemas. “Eh, masih nyala juga nih mobil,” gumamnya. “Dulu bapakku bilang, mobil ini harusnya udah disumbang ke museum.” Bunyi itu memantul di rongga dadanya seperti kenangan yang menolak usang. Setiap dentum terasa seperti ketukan jari ayahnya di setir, ritme kecil yang dulu mengantar pagi-pagi Minggu.

Dulu, ayahnya selalu menyetir mobil ini ke pasar setiap Minggu pagi, sambil memutarkan lagu-lagu lawas lewat kaset pita. Kadang mereka bertengkar soal arah, kadang tertawa soal suara knalpot yang meledak sendiri. Tapi sejak ayahnya tiada, mobil ini jadi satu-satunya warisan yang bisa dibawa Roni keluar kota. Warisan yang bukan sekadar besi tua: ia memuat bau minyak mesin, serpih tawa, dan jeda-jeda hening yang pernah diisi oleh suara orang yang kini tinggal dalam ingatan.

Langit sore membentang dalam warna jingga tembaga, seperti lukisan lama yang nyaris pudar. Jeep tua itu berderit pelan saat bannya menyentuh tanah kering desa Tanpo Arang. Debu jalanan naik seperti kabut coklat, melayang-layang lembut dan pelan seakan menari bersama angin pegunungan yang tipis dan harum tanah. Jauh di punggung bukit, matahari seperti koin tua yang diselipkan ke saku senja; cahayanya meleleh di daun-daun damar, memanjangkan bayangan menjadi garis-garis halus di tanah.

Roni Amarfi menyandarkan kepalanya sejenak di jendela yang terbuka. Dedaunan bergoyang perlahan di pinggir jalan, mengayun seperti menyambut kedatangannya. Udara segar dan sejuk masuk ke paru-parunya — aroma tanah basah, asap kayu, dan rumput liar bercampur jadi satu. Tidak ada suara klakson, tidak ada deru mesin motor. Hanya alam, dan dirinya. Ia membiarkan paru-parunya dipenuhi dingin yang bersih; kota terasa menjauh seperti mimpi yang gagal diingat seutuhnya.

Ban depan jeep menghantam batu kecil, membuat tubuh Roni sedikit terguncang di kursi. Ia mendengus, menatap desa kecil itu dari balik kaca berdebu. Guncangan singkat itu seperti ketukan pelan: ‘sudah sampai, sudah waktunya melihat ke belakang tanpa lari’.

Tanpo Arang. Desa yang katanya tenang, tapi diulas "aneh" oleh para netizen haus konten. Google Review memberinya bintang 2,7. Ada yang bilang ayam di sini bisa naik pohon. Ada juga yang bersumpah suara kentongan bisa berbunyi sendiri jam dua pagi. Desa yang dibiarkan internet sebagai lelucon, padahal menyimpan kamus kecil tentang cara orang bertahan hidup tanpa banyak bunyi.

Tapi Roni bukan turis. Ia tidak membawa kamera digital atau topi lebar. Ia datang bukan karena ingin eksis di Instagram, tapi... karena sesuatu yang belum selesai. Dan ya, karena liburan murah juga. Biar jujur. Kalimat jujur itu rasanya pahit-manis di lidahnya; di bawah alasan hemat, ada luka yang pelan-pelan ingin ia ukur ulang.

“Kalau dia masih di sini sih, aku bakalan pura-pura nyasar ke rumahnya,” gumamnya sambil membenarkan rambut pakai kaca spion retak. “Kalau nggak... ya tidur di lumbung padi juga nggak masalah.” Ia tersenyum hambar pada bayangannya sendiri—retak spion itu membuat wajahnya terlihat berlipat, seperti hatinya yang punya lebih dari satu alasan untuk kembali.

Begitu kakinya menginjak tanah, debu menyambut seperti pelukan tua: tak terlihat tapi terasa—masuk ke hidung, melekat di sepatu.
“Achoo!” Roni bersin keras. Bersin yang memecah keheningan—keheningan yang tidak dingin, melainkan hangat, seperti selimut yang lama tidak dipakai.

Ia mengangkat ranselnya yang penuh coretan tempel stiker perjalanan masa lalu dan memandang sekeliling. Rumah-rumah panggung kayu berjajar rapi. Tiang-tiangnya lapuk tapi kokoh, seolah mereka adalah saksi bisu generasi yang datang dan pergi. Anyaman bambu menjadi pagar, dihiasi kain-kain motif tua yang menggantung tenang, seperti perasaan yang belum selesai di hati seseorang. Di beberapa teras, jemuran baju berkibar pelan; warna-warnanya pudar, namun wangi sabun kelapa samar tercium saat angin lewat.

Di kejauhan, suara gemercik sungai menyapa—jernih dan menyegarkan. Udara membawa aroma kolot dedaunan basah dan bunga liar yang tumbuh liar di sela bebatuan. Seekor capung biru melintas rendah, sayapnya bergetar seperti benang kaca; sejenak ia melayang di depan wajah Roni, lalu lenyap ke rumpun padi.

Tanpo Arang terasa seperti desa yang lupa waktu—terjebak di masa yang tak pernah beranjak. Di sini, jam tidak berjalan di pergelangan tangan, melainkan di aliran air, di panjang bayangan, di nada kentongan yang konon memilih sendiri jamnya.

“Geser dikit, orang kota!” Suara perempuan menyentak dari kiri. Suara itu bening dan sedikit serak, seperti gitar yang senarnya baru diganti.

Roni menoleh cepat. Suara langkah kecil di atas daun kering mengantarnya pada sosok di bawah pohon beringin besar. Seorang gadis berdiri santai dengan celana batik lusuh, kaus oblong pudar, dan ember biru di tangan. Rambutnya diikat asal, berantakan, tapi justru membingkai wajahnya yang keras kepala dan penuh semangat. Matanya—mata hitam pekat penuh iseng—menatap Roni seperti sedang menilai barang antik yang tiba-tiba muncul dari gudang. Ada kilat kecil di sana—campuran geli, waspada, dan sesuatu yang pernah ditinggal separuh jalan.

“Ahyi?” sapanya ragu-ragu. Nama itu keluar pelan, seperti membuka laci yang lama terkunci.

Senyumnya kecil, tidak mekar, tapi cukup untuk membangkitkan ingatan bertahun-tahun lalu.

“Kamu datang juga akhirnya, Roni Amarfi,” ucapnya pelan, seolah nama itu adalah mantra yang disimpan lama di bawah bantal. Nada suaranya tenang, tapi terdengar jelas seperti hujan pertama yang jatuh di tanah kering. Hujan yang tidak menenggelamkan—sekadar membasahi, menandai sesuatu akan tumbuh.

Roni tertawa kecil, agak kikuk. Wajahnya sedikit memerah, bukan karena malu, tapi karena semua kenangan yang mendadak menyeruak sekaligus. Matanya menatap Ahyi seperti ingin memastikan bahwa sosok di depannya benar-benar nyata. Ia tampak lebih dewasa, tapi tatapannya masih sama seperti dulu—penuh rasa ingin tahu dan canda yang ditahan di ujung bibir. Di sudut bibirnya ada bekas luka kecil, baru ia sadari sekarang; jejak yang entah milik pekerjaan berat atau tawa yang pernah disobek air mata.

Seketika, ketika Ahyi menyodorkan ember, tangan mereka bersentuhan sebentar. Sentuhan ringan yang membuat dada Roni berdebar, tapi ia cepat mengalihkan pandangan. Ada sesuatu yang ia coba sembunyikan, tapi jelas, perasaan itu mulai tumbuh—antara lama dan baru, kenangan dan harapan, seperti sebuah benih yang menunggu waktu untuk mekar. Seketika udara sekitar seperti memadat: suara daun, gemericik air, bahkan dengung serangga terasa lebih dekat dari biasanya.

“Masih ingat aja sama nama lengkapku. Padahal terakhir ke sini waktu... SD, ya?”

Ahyi mengangkat bahu, matanya menyipit jenaka. “Beberapa nama nggak gampang dilupain... terutama yang pernah nyasar ke kandang ayam orang gara-gara takut kucing.”

Roni mendengus sambil tertawa. “Jangan diungkit, dong.” Ia menunduk, menyembunyikan senyum yang tak bisa dikendalikan.

Ahyi menatapnya geli, dagunya sedikit terangkat seperti sedang menggoda. “Kukira kamu udah lupa sama temen masa kecilmu yang dulu kamu tuduh nyolong permen.”

“Eh, itu salah paham! Aku kehausan waktu itu!” bela Roni, mengangkat kedua tangan seolah menyerah.

“Permen itu buat dikunyah, Ron. Bukan diminum,” balas Ahyi sambil mengerling, tawanya renyah, jernih, seperti angin sore yang membawa bau kayu bakar. Tawa yang tidak keras, tapi panjang; ia menggelinding di antara batang pohon dan mengusir gugup dari bahu Roni.

Roni cengar-cengir, menunduk sedikit seperti bocah yang ketahuan mencuri mangga tetangga. “Lama nggak ketemu, kamu masih aja nyebelin...”

“Dan kamu masih sama... bau kota,” ujar Ahyi sambil mengulurkan ember ke arahnya. Tangan mereka sempat bersentuhan sebentar, ringan tapi cukup untuk membuat waktu seolah berhenti sesaat. “Nih, pegangin. Aku mau ceburin ikan ke kolam.”

Roni mengeluh, tapi tetap mengambil ember dengan tangan sigap. Keluhannya lebih seperti kebiasaan, bukan penolakan—sebuah cara halus untuk mengelola rasa enggan yang tak sungguh-sungguh. Ember itu terasa dingin, tapi beratnya ia terima dengan pasrah. Di hadapannya, Ahyi sudah berjalan lebih dulu, melewati jalan setapak yang ditutupi daun-daun gugur. Langkahnya mantap dan penuh ketenangan, seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan arah hidupnya. Roni mengikuti dari belakang, memperhatikan jejak telapak kaki di tanah—jejak itu jelas, namun mudah terhapus angin; seperti hubungan mereka yang dulu.

Daun-daun kering itu berderak pelan di bawah telapak kaki Ahyi, menciptakan irama lembut yang berpadu dengan desir angin pagi. Cahaya matahari menyelinap di antara celah dedaunan, menyoroti rambut Ahyi yang berayun perlahan. Udara pagi membawa aroma tanah basah dan wangi samar dari dapur-dapur yang baru mulai menanak nasi—aroma yang mengingatkan mereka akan pagi-pagi lama yang tenang di desa. Asap tipis dari tungku sesekali menyilang jalan, meninggalkan rasa hangat di kulit seperti sentuhan halus yang tidak memaksa.

“Desa ini masih... sepi ya?” tanya Roni sambil mengamati sekeliling. Suaranya pelan, nyaris seperti gumaman.

Pandangan matanya menelusuri rumah-rumah kayu yang berdiri diam, dindingnya mulai pudar dimakan waktu, namun tetap tampak akrab. Tiang-tiang bambu, pagar-pagar rendah, dan kebun kecil di halaman rumah seolah menyimpan cerita lama yang tak pernah benar-benar usai. Tak banyak yang berubah, namun justru dalam keheningan itulah ada rasa damai yang merambat perlahan ke dalam hati. Seolah desa ini berkata: tidak perlu tergesa, semua yang perlu sampai akan menemukan jalannya.

“Sepi? Hm, kalau malam minggu biasanya jenglot nyanyi karaoke dari tebing.” Ahyi tertawa pelan.

Roni langsung berhenti melangkah. “Hah?!”

Ahyi tertawa keras. “Masih gampang dibecandain kayak dulu.”

Roni menghela napas lega. “Kirain kamu udah jadi cenayang.”

“Belum, baru magang.” Ungkap Ahyi terkekeh. “Tapi serius, kadang desa ini terasa seperti ditinggalkan waktu.” Dititipkan pada angin, pada langkah-langkah yang jarang, pada nama-nama yang hanya diingat lewat kentongan.

“Jadi legenda tebing cahaya itu nyata?” Roni bertanya sambil menoleh ke arah hutan yang mulai gelap.

Ahyi melirik ke arah tebing yang menjulang, tempat di mana cahaya-kah sesuatu yang selalu terlihat aneh, bahkan ketika malam gelap gulita. “Tebing Cahaya itu bukan cuma cerita buat menakut-nakuti orang-orang baru,” katanya pelan. “Konon, di sana ada sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang bisa mengubah semua yang kita tahu tentang Tanpo Arang.” Kalimatnya menggantung seperti lampu minyak yang diletakkan di ambang jendela—cukup terang untuk menuntun, tidak cukup untuk memaksa.

Roni menelan ludah, merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar cerita rakyat. Ada getar halus di udara, seperti bisikan yang mengingatkan akan janji lama dan beban yang tak bisa diabaikan. Jantungnya memukul pelan, bukan karena takut, melainkan karena pengakuan: ia memang kembali untuk sesuatu yang pernah ia biarkan berhenti di tengah kalimat.

Ia melirik ke arah Ahyi, yang wajahnya kini tersapu bayangan senja. Ada kesan berat dan sekaligus harapan dalam matanya. Seperti orang yang tahu arah sungai, tapi masih menimbang di mana harus menyeberang.

Ahyi lalu berhenti di tepi kolam kecil. Airnya keruh tapi tenang. Ikan-ikan kecil berenang di dalamnya seperti sedang menyesuaikan diri dengan rumah barunya. Dengan cekatan, Ahyi menuang ember ke kolam, menciptakan riak-riak kecil yang menjalar perlahan. Riak itu merekam langit jingga menjadi serpih-serpih patah; setiap patahan seperti potongan waktu yang jatuh kembali ke tempatnya.

“Nah, ikan-ikan ini baru dateng dari sungai, lho,” katanya sambil menatap Roni, “Mereka butuh tempat yang aman buat berkembang biak. Kayak kita juga, ya, Ron.”

Roni mengernyit, mencoba mengerti maksudnya. “Maksud kamu... kayak kita yang butuh tempat aman buat berkembang?”

Ahyi mengangguk. “Iya. Aku yakin kamu nyari sesuatu di sini. Bukan cuma liburan murahan.”

Roni diam sejenak. Memang benar, hatinya berat meninggalkan kota, meninggalkan rutinitas yang bikin lelah itu. Dan ya, ada seseorang yang ingin dia temui—seseorang yang dulu pernah membuat hari-harinya penuh warna, sekaligus penuh tanda tanya. Nama itu berputar pelan di kepalanya, seperti jarum kompas yang macet namun tetap menunjuk arah yang sama.

“Kalau aku bilang aku datang buat nyari jawaban, kamu percaya nggak?” tanya Roni pelan.

Ahyi menatapnya dalam-dalam. “Aku percaya. Kadang jawaban itu nggak kita dapatkan di tempat yang terang benderang, tapi di tempat yang sepi dan penuh cerita kayak sini.” Di sudut bibirnya terbit senyum yang tidak selesai; seperti pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka.

Roni tersenyum tipis, merasakan angin sore yang dingin mulai menyapa. “Kalau begitu, aku siap menerima cerita apa pun yang desa ini kasih.”

“Mantap. Tapi jangan berharap cerita di sini bakal mudah dimengerti,” kata Ahyi sambil tersenyum penuh misteri. Cerita di sini lebih suka berbisik daripada berpidato.

Langit mulai berwarna jingga saat mereka meninggalkan kolam ikan. Tebing Cahaya tampak samar di kejauhan, seperti memanggil. Senja pun menyelinap di antara batang-batang pohon damar, menciptakan siluet keemasan yang menari di tanah basah. Udara mulai mengandung aroma dedaunan yang mengering, bercampur dengan harum tanah yang baru saja disiram matahari sore. Kabut tipis menyelimuti kaki bukit ketika Roni menginjakkan kakinya. Aroma tanah basah dan kayu pinus yang menguar dari kejauhan langsung membangkitkan kenangan masa kecil. Ada bayangan kecil tentang dirinya sendiri berlari dengan kaki telanjang, tentang tawa yang tidak memikirkan besok; bayangan itu lewat cepat, tetapi meninggalkan hangat yang tidak meminta penjelasan.

Di ujung jalan tanah itu, siluet Ahyi dengan tangan disilangkan dan wajah sedikit kesal.

“Lambat banget, Mas Kota,” kata Ahyi, senyumnya muncul setengah, sedikit miring seperti dulu—seolah tahu sesuatu yang tidak kamu tahu.

Roni tertawa, geli sekaligus canggung. “Kaki kota nggak biasa jalan tanah, Nyi.”

“Tapi biasa lari dari masalah,” balasnya cepat. Kalimatnya meluncur ringan, tapi menancap rapi.

Ahyi memang tak pernah kehilangan ketajaman lidahnya. Dan entah kenapa, Roni tidak keberatan.

Ahyi yang melangkah lebih dulu menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering, tubuhnya ramping dan ringan, seperti sudah menyatu dengan ritme alam desa. Sementara Roni berjalan di belakangnya, masih menenteng ember kosong, langkahnya agak ragu. Tatapannya terpaku pada punggung Ahyi—sosok yang dulu ia kenal sebagai anak perempuan paling cerewet sekaligus paling pemberani di kampung. Di antara ayun langkahnya, Roni menyadari betapa keheningan bisa berbicara jika orang yang berjalan di depan adalah seseorang yang pernah ia titipi rahasia kecil.

Kini Ahyi terlihat lebih dewasa, tapi tetap menyimpan sisa kenakalan di sudut matanya. Rambutnya dikuncir sederhana, kausnya lusuh karena cipratan lumpur, tapi bagi Roni, tidak ada yang lebih menyejukkan selain berjalan beriringan dengan potongan masa lalu yang masih hidup. Dan betapa aneh: masa lalu itu terasa tidak berat, seperti kain yang baru dijemur dan masih hangat.

Roni menatap punggungnya dengan pandangan yang campur aduk antara bingung, kagum, dan... lapar. Ia baru sadar belum makan sejak pagi.

“Ahyi, di sini masih ada warung bakwan bu Endah nggak?” tanya Roni, setengah berharap.

Ahyi menoleh sambil garuk kepala. “Bu Endah sekarang jadi dukun bayi. Warungnya diganti jadi posyandu. Tapi bakwan-nya kadang masih muncul di mimpi.”

“Ya ampun,” gumam Roni. “Desa ini bener-bener... berubah nggak berubah, ya.” Perubahan di sini seperti pertumbuhan akar: tidak terlihat dari atas, tapi pelan-pelan memperkuat yang ada.

Tanpo Arang terletak di salah satu lembah tersembunyi di kaki Gunung Manglayang. Desa kecil yang nggak muncul di GPS, tapi dikenal baik oleh para tukang ojek, tukang tahu bulat, dan mantan pendaki yang tersesat. Desa Tanpo Arang memang semacam dunia kecil yang terselip di antara lipatan peta—tidak ada di Google Maps, tapi bisa ditemukan kalau niat nyasar. Namanya aneh: Tanpo Arang, tanpa arang. Katanya dulu di sini ada tambang batubara, tapi habis ditambang, ditinggal begitu saja. Sejak itu, warga lebih suka menyebutnya ‘desa tanpa bara’. Tanpa arang, tanpa api. Tapi siapa sangka, justru di desa inilah banyak cerita lama yang tetap menyala. Nyala yang tidak menyala-nyala; lebih mirip pijar bara dalam hati—cukup untuk menghangatkan, cukup untuk menunjukkan jalan pada yang pulang.

Rumah-rumah panggung berjejer seperti penjaga masa lalu. Anak-anak berlari tanpa alas kaki, mengejar ayam yang entah kenapa bisa naik ke atap. Kentongan kayu tergantung di tiap ujung gang, kadang bunyi sendiri katanya karena angin — atau karena ‘yang lain’, tergantung siapa yang ditanya. Di satu sudut, seorang kakek duduk di bangku bambu, mengasah parang dengan gerakan yang hapal; bunyi geseknya tipis, seperti garis di peta yang menunjukkan rute pulang.

Dan Roni? Dia anak kota. Lahir dan besar di Surabaya, kerja di Jakarta, dan sempat merasa jadi manusia fungsional: bangun, kerja, ngopi, lembur, ulang. Sampai akhirnya tubuhnya ngambek dan pikirannya ngelantur.

“Burnout,” kata bos HR-nya sambil nyodorin cuti.
“Break dulu, Ron,” kata sahabatnya sambil nyodorin aplikasi meditasi.

Tapi Roni tahu, istirahat sejati bukan soal tidur panjang atau yoga 30 menit. Kadang, istirahat itu soal kembali ke titik awal. Dan bagi Roni, titik awal itu adalah desa Tanpo Arang — tempat dia dulu pernah tinggal sebentar waktu kecil, tempat pertama kali ia belajar takut kucing, dan... tempat ia merasa bahagianya yang sesungguhnya ada. Ia tidak tahu apakah kebahagiaan itu masih tinggal di alamat yang sama, tapi ia tahu caranya mengetuk.

“Eh, kamu kenapa bengong?” tanya Ahyi sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Roni, alisnya terangkat sedikit, matanya memicing seolah sedang menilai.

Roni berkedip, tersadar. “Nggak, aku cuma mikir... kenapa dulu aku bisa lupa tempat ini.” Suaranya lirih, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

Ahyi mengerling dengan senyum geli. “Mungkin karena kamu terlalu sibuk ngapalin jalan ke mall.” Nada suaranya menggoda, ringan, tapi penuh kenangan.

Roni terkekeh, geli sendiri. “Bisa jadi.”

Dulu, desa ini seperti dunia kecil yang terpisah dari segala hiruk-pikuk kota. Udaranya dingin menusuk tulang, dan langitnya bersih tanpa noda kabel listrik. Tidak ada sinyal HP, hanya suara alam yang berbicara—angin menyusup di celah pohon damar, jangkrik bernyanyi saat senja, dan suara pintu kayu yang berderit ditiup angin. Vila-vila mungil dengan atap segitiga berjajar rapi di lereng bukit, sebagian besar sekarang sunyi, dihuni debu dan kenangan. Sunyi yang bukan kosong—lebih mirip jeda panjang dalam lagu, menunggu nada berikutnya dimainkan.

Termasuk vila keluarga Roni.

“Masih inget vila kamu?” tanya Ahyi sambil menapaki jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering, kakinya menyentuh tanah yang lembap, nafasnya sedikit mengembun di udara dingin. “Dulu kamu sama Ridhan suka banget main perang-perangan di situ.”

Roni tertawa kecil, matanya menerawang. “Iya. Dia selalu maksa jadi jenderal. Aku kebagian nyuci topi tempur dari kardus bekas.”

Ahyi mendengus sambil menyikut pelan lengan Roni. “Dia galak banget sih dulu. Judes pula. Kayak tahanan politik gagal.”

Roni mengangguk, lalu diam. Diam yang tidak kosong, tapi padat dengan kenangan.

Ridhan. Kakaknya yang keras kepala, ambisius, dan selalu ingin menang. Pintar, iya. Tapi juga seperti dinding yang tinggi dan dingin. Tak mudah ditembus. Waktu kecil, Ridhan seperti pusat gravitasi rumah—semua orang berputar mengelilinginya, termasuk Roni. Kalau Roni adalah air, maka Ridhan adalah karang—kukuh, tak tergoyahkan, dan kadang menyakitkan kalau terlalu dekat. Nama Ridhan membuat napas Roni sedikit berat. Bukan karena benci, tapi karena ada hal-hal yang tak pernah mereka bicarakan sejak dulu—hal-hal yang menggantung di antara mereka, seperti kabut sore ini. Beberapa kata pernah tertahan di tenggorokannya bertahun-tahun; kini kata-kata itu mengetuk lagi, lebih sopan, tapi lebih mendesak.

Dan ketika menyangkut Ahyi, semuanya jadi lebih... rumit.

Roni mengingatnya dengan jelas. Tiap kali Ahyi datang ke vila, Ridhan seperti ganti kulit. Nada bicaranya naik satu oktaf, ekspresinya mengeras, dan sarkasme menjadi bahasa sehari-hari. Seolah kehadiran Ahyi adalah gangguan kecil yang mampu meruntuhkan kerajaannya. Roni tak pernah paham: apakah itu cemburu, kuasa, atau ketakutan yang tidak punya nama.

“Gue nggak ngerti kenapa dia kesel banget sama kamu,” ujar Roni pelan, matanya menatap dedaunan yang tertiup pelan.

“Karena aku pernah ngalahin dia di adu gundu?” sahut Ahyi cepat, cengar-cengir, mencoba mencairkan suasana.

“Mungkin juga karena kamu pernah bilang dia mirip tokoh antagonis di sinetron.”

Ahyi langsung tertawa keras, menggema di jalan setapak. “Ya ampun, iya! Aku bilang dia mirip Mas Rangga dari Badai di Hati Bunda! Matanya sama-sama juling marah!”

Roni ikut tertawa, tapi tawanya cepat mereda. Ada ruang hening yang menggantung di antara mereka. Bukan sunyi karena malu, tapi karena masing-masing tahu ada benang cerita yang belum selesai dijahit. Benang yang jika ditarik gegabah, bisa membuat kainnya sobek.

“Iya ya. Dulu kita bikin markas rahasia di bawah meja makan. Tapi Ridhan selalu jadi jenderal, aku yang suruh bawa bekal,” gumam Roni sambil tersenyum kecil.

“Karena kamu lemah diplomasi,” jawab Ahyi sambil nyengir, matanya berbinar.

Vila itu akhirnya terlihat dari kejauhan. Dindingnya masih berdiri tegak, meski warna catnya telah memudar jadi abu pucat. Jendela kayunya tampak mengelupas, dan balkon kecil di lantai dua kini diselimuti sulur tanaman liar yang tumbuh tak terkendali. Tapi bentuk bangunannya masih sama—seperti potret masa lalu yang nyaris tak berubah. Atapnya menahan dingin, halamannya menahan jejak—semua seperti sedang menunggu kalimat berikutnya ditulis.

Roni berhenti melangkah, menghela nafas panjang. Udara sore makin dingin, kabut mulai turun pelan-pelan dari arah kebun teh.

Dulu, balkon itu jadi tempat favoritnya—menatap langit malam, menghitung bintang, dan diam-diam berdoa supaya besok tidak disuruh mandi pagi-pagi.

Kini vila itu menjadi tempat pelariannya. Setelah tubuh dan pikirannya jenuh oleh kebisingan dan kecepatan kota, dia kembali ke tempat yang sempat dia lupakan, tapi tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Pulang bukan perkara alamat; pulang adalah perkara keberanian mengakui yang pernah ditinggal.

“Kukira kamu nggak bakal balik lagi ke sini,” kata Ahyi pelan, nyaris seperti gumaman.

Roni mengangguk pelan, pandangannya menyapu lembah di kejauhan. “Aku juga nggak nyangka. Tapi kadang, ada hal-hal yang cuma bisa sembuh kalau kita balik ke tempat yang pernah bikin kita utuh.”

Ahyi menoleh, mengangkat satu alis. “Kamu dapet kata-kata itu dari mana? Pinterest?”

“Dari lembar tagihan rumah sakit jiwa,” jawab Roni, dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. “Lumayan, paketnya ada bonus refleksi hidup.”

Mereka tertawa lagi. Tawa yang ringan, tapi tak sepenuhnya tanpa beban. Karena di sela-sela suara itu, ada ruang sunyi yang dalam. Ruang tempat kenangan dan luka bersandar, menunggu waktunya untuk dibereskan. Ruang yang tidak minta segera, hanya minta diakui keberadaannya.

Saat mereka tiba di depan pintu vila, Roni membuka kunci tua yang mulai berkarat. Pintu berderit pelan saat dibuka, menyambut mereka dengan aroma kayu tua dan debu.

Angin sepoi-sepoi menyapa daun-daun yang berguguran di halaman belakang. Rumput liar tumbuh liar, menutupi jejak-jejak masa lalu yang dulu begitu jelas. Di sudut teras, pot tanah liat retak memeluk sisa-sisa tanaman obat yang kering; namanya terlupa, khasiatnya mungkin tidak.

Roni melangkah ke dalam. Setiap sudut vila adalah potongan cerita: tawa bersama Ridhan di taman belakang, aroma kue hangat dari dapur kecil, suara gemericik air kolam yang menemani sore hari mereka. Semua masih terasa dekat, meski waktu telah membawa banyak perubahan. Langkahnya menimbulkan debu yang menari di berkas cahaya, seperti salju kecil yang tiba-tiba percaya diri untuk jatuh di daerah tropis.

Ia duduk di bangku kayu tua di dekat jendela, mengeluarkan buku harian lamanya yang ditemukan di laci meja. Saat membuka halaman pertama, senyumnya muncul perlahan. Tulisan tangannya yang dulu—acak, penuh ejaan salah—menyimpan potongan kecil dari seorang anak yang bermimpi dan bercanda tanpa beban. Beberapa halaman wangi apek; yang lain masih menyisakan bau tinta murah yang keras kepala tidak mau hilang.

Villa ini, pikirnya, bukan cuma bangunan lama. Tapi pelipur lara. Tempat ia belajar kembali bernapas, setelah lama terengah di dunia yang menuntut banyak hal sekaligus. Dindingnya mungkin mengelupas, tapi ia mengelupas dengan sabar; mengajari bahwa yang menua tidak selalu berarti selesai.

Meski sepi dan berdebu, ada sesuatu yang hidup di sana—semacam semangat masa lalu yang kini memberinya kekuatan baru. Tempat yang mengajarkan bahwa tak semua luka harus dibuang; beberapa cukup dikenang… untuk bisa benar-benar sembuh. Sebab kenangan yang diizinkan duduk, pada akhirnya berhenti menjerit.

…memang benar, ia tidak datang hanya karena tiket pulang-pergi murah dan godaan udara pegunungan yang segar. Ada yang mengganjal dalam dirinya sejak terakhir kali ia tinggalkan Tanpo Arang. Sebuah teka-teki yang tidak pernah benar-benar selesai, dan satu nama—selain Ahyi—yang terus berbisik di benaknya setiap malam: Pak Tarya. Nama itu seperti lampu kecil yang tidak mau padam meski listrik mati—ia hidup dari bahan bakarnya sendiri: janji.

“Pak Tarya masih tinggal di ujung desa?” tanyanya perlahan.

Ahyi menoleh cepat. Tatapannya berubah sedikit ragu, lalu mengangguk pelan. “Masih. Tapi... banyak yang bilang beliau sudah tidak seperti dulu. Suka bicara sendiri. Kadang malam-malam lampunya nyala semua, katanya sih karena—” ia menghentikan kalimatnya, seolah menimbang-nimbang apakah perlu dilanjutkan.

“Karena apa?” desak Roni, matanya menatap serius.

“Karena dia masih nunggu seseorang... yang janji balik tapi nggak pernah datang.” Kata-kata itu jatuh satu-satu, seperti biji kopi ke dalam cangkir: sedikit, tapi cukup untuk membuat malam tak bisa cepat tidur.

Suasana hening sejenak, hanya suara serangga malam yang mulai menggantikan lenguh sore. Roni menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di desa ini, ia merasa benar-benar pulang—bukan sekadar kembali ke tempat, tapi kembali ke cerita yang dulu ia tinggalkan. Pulang ke pertanyaan, bukan ke jawaban; tetapi kali ini ia tidak buru-buru.

“Waktu itu... aku nggak siap,” ucapnya lirih. “Banyak hal yang belum kupahami, belum kubereskan.”

Ahyi duduk di tepi kolam, merendam ujung kakinya ke air. “Nggak semua hal harus selesai sekaligus, Ron. Kadang, cukup datang lagi. Biar yang belum selesai bisa mulai bicara.” Ia menatap permukaan air yang gelap, melihat wajahnya sendiri terbelah oleh riak; ia tahu betul bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang tidak punya jadwal.

Roni ikut duduk di sampingnya, lututnya menekuk, lengan bertumpu di paha. Sinar senja perlahan memudar, digantikan bintang-bintang pertama yang mulai menyala malu-malu. Udara menipis, tapi justru di sanalah kalimat-kalimat terdengar lebih jernih.

“Kalau aku datang untuk menyelesaikan yang tertinggal... kamu termasuk di dalamnya?” tanya Roni, nyaris seperti bisikan.

Ahyi tidak menjawab langsung. Ia memungut batu kecil dan melemparkannya ke kolam, menciptakan gelombang bundar yang menjalar perlahan.

“Coba aja dulu. Siapa tahu... masih ada yang bisa tumbuh dari yang dulu cuma benih,” jawabnya lembut, matanya masih tertuju ke permukaan air. Jawaban yang bukan janji, tapi bukan penolakan; ruang di antaranya dibiarkan lapang agar harapan bisa bernafas.

Roni menatapnya lama. Ada sesuatu yang hangat mengalir dalam dadanya—bukan hanya rasa lama yang kembali, tapi juga harapan baru yang muncul dari sela-sela sunyi. Tanpo Arang mungkin desa yang tertinggal waktu, tapi justru di tempat seperti itulah, waktu bisa menemukan ruang untuk menambal luka. Dan malam—yang biasanya menutup pintu—kali ini terasa seperti membuka jendela.

Dan malam itu, di bawah langit yang makin pekat, dua orang yang dulu berpisah sebagai anak-anak mulai berbicara lagi sebagai orang dewasa. Dengan tawa, dengan kenangan, dan dengan janji-janji baru yang belum diucapkan. Kata-kata mereka tidak menuntut akhir; mereka cukup menjadi jembatan yang bisa dilalui besok.

Sementara itu, di kota besar yang jauh dari tenangnya Tanpo Arang, Ridhan berdiri di balik jendela kantor mewahnya. Pengusaha muda yang sukses dan dingin, dengan wajah tanpa ekspresi dan mata yang selalu fokus pada target. Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang serius, tegas, dan tak mudah didekati. Namun di balik kesibukannya, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya—sebuah janji lama yang terikat erat dengan desa kecil di pegunungan itu. Ia menatap refleksinya sendiri di kaca: seorang lelaki yang menang banyak di papan skor, tapi kalah di percakapan yang seharusnya dilakukan bertahun-tahun lalu.

Ridhan bukan sekadar sosok pengusaha biasa. Di balik jas rapi dan mobil mewahnya, ia membawa beban masa lalu yang berujung pada kembalinya Roni ke Tanpo Arang. Dua jalan yang berbeda itu akan segera bertemu, di sebuah tempat yang disebut Tebing Cahaya. Legenda yang tak hanya cerita kosong—tapi juga saksi bisu dari rahasia yang menunggu terungkap. Ia meraba saku jasnya, menemukan kertas kecil berisi nomor yang sudah usang; jempolnya melayang di atas ponsel, namun berhenti satu sentimeter dari keputusan. “Nanti,” katanya pada dirinya sendiri—kata yang paling sering menunda yang penting.

How do you feel about this chapter?

0 0 1 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dwyne

    Roni sama Ahyi chemistrynya dapet banget berduaaa... Gaya bahasanya sukaa... puitis, tapi enggak yang terlalu mendayu-dayu. Ibaratnya dessert manisnya pas. Hehehehe...

    Comment on chapter Chapter 1 Jejak Langkah di Desa Tanpo Arang
Similar Tags
KESEMPATAN PERTAMA
634      442     4     
Short Story
Dan, hari ini berakhir dengan air mata. Namun, semua belum terlambat. Masih ada hari esok...
Melihat Tanpamu
460      386     1     
Fantasy
Ashley Gizella lahir tanpa penglihatan dan tumbuh dalam dunia yang tak pernah memberinya cahaya, bahkan dalam bentuk cinta. Setelah ibunya meninggal saat ia masih kecil, hidupnya perlahan runtuh. Ayahnya dulu sosok yang hangat tapi kini berubah menjadi pria keras yang memperlakukannya seperti beban, bahkan budak. Di sekolah, ia duduk sendiri. Anak-anak lain takut padanya. Katanya, kebutaannya...
Nobody is perfect
15209      3018     7     
Romance
Pada suatu hari Seekor kelinci berlari pergi ingin mencari Pangerannya. Ia tersesat, sampai akhirnya ditolong Si Rubah. Si Rubah menerima si kelinci tinggal di rumahnya dan penghuni lainnya. Si Monyet yang begitu ramah dan perhatiaan dengan si Kelinci. Lalu Si Singa yang perfeksionis, mengatur semua penghuni rumah termasuk penghuni baru, Si Kelinci. Si Rubah yang tidak bisa di tebak jalan pikira...
Campus Love Story
10213      2806     1     
Romance
Dua anak remaja, yang tiap hari bertengkar tanpa alasan hingga dipanggil sebagai pasangan drama. Awal sebab Henan yang mempermasalahkan cara Gina makan bubur ayam, beranjak menjadi lebih sering bertemu karena boneka koleksi kesukaannya yang hilang ada pada gadis itu. Berangkat ke kampus bersama sebagai bentuk terima kasih, malah merambat menjadi ingin menjalin kasih. Lantas, semulus apa perjal...
After School
4636      1980     0     
Romance
Janelendra (Janel) bukanlah cowok populer di zaman SMA, dulu, di era 90an. Dia hanya cowok medioker yang bergabung dengan geng populer di sekolah. Soal urusan cinta pun dia bukan ahlinya. Dia sulit sekali mengungkapkan cinta pada cewek yang dia suka. Lalu momen jatuh cinta yang mengubah hidup itu tiba. Di hari pertama sekolah, di tahun ajaran baru 1996/1997, Janel berkenalan dengan Lovi, sang...
Survive in another city
476      334     0     
True Story
Dini adalah seorang gadis lugu nan pemalu, yang tiba-tiba saja harus tinggal di kota lain yang jauh dari kota tempat tinggalnya. Dia adalah gadis yang sulit berbaur dengan orang baru, tapi di kota itu, dia di paksa berani menghadapi tantangan berat dirinya, kota yang tidak pernah dia dengar dari telinganya, kota asing yang tidak tau asal-usulnya. Dia tinggal tanpa mengenal siapapun, dia takut, t...
Aku Sakit
6091      1820     30     
Romance
Siapa sangka, Bella Natalia, cewek remaja introvert dan tidak memiliki banyak teman di sekolah mendadak populer setelah mengikuti audisi menyanyi di sekolahnya. Bahkah, seorang Dani Christian, cowok terpopuler di Bernadette tertarik pada Bella. Namun, bagaimana dengan Vanessa, sahabat terbaik Bella yang lebih dulu naksir cowok itu? Bella tidak ingin kehilangan sahabat terbaik, tapi dia sendiri...
WEIRD MATE
1759      893     10     
Romance
Syifa dan Rezeqi dipertemukan dalam kejadian konyol yang tak terduga. Sedari awal Rezeqi membenci Syifa, begitupun sebaliknya. Namun suatu waktu, Syifa menarik ikrarnya, karena tingkah konyolnya mulai menunjukkan perasaannya. Ada rahasia yang tersimpan rapat di antara mereka. Mulai dari pengidap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), pengguna narkoba yang tidak diacuhkan sampai kebencian aneh pa...
The Journey is Love
898      619     1     
Romance
Cinta tak selalu berakhir indah, kadang kala tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mencintai tak mesti memiliki, begitulah banyak orang mengungkapkan nya. Tapi, tidak bagiku rasa cinta ini terus mengejolak dalam dada. Perasaan ini tak mendukung keadaan ku saat ini, keadaan dimana ku harus melepaskan cincin emas ke dasar lautan biru di ujung laut sana.
God's Blessings : Jaws
2045      989     9     
Fantasy
"Gue mau tinggal di rumah lu!". Ia memang tampan, seumuran juga dengan si gadis kecil di hadapannya, sama-sama 16 tahun. Namun beberapa saat yang lalu ia adalah seekor lembu putih dengan sembilan mata dan enam tanduk!! Gila!!!