Pagi datang seperti tamu yang tahu diri: mengetuk pelan lewat embun di bibir jendela, lalu duduk diam di kursi kayu tanpa minta disuguhi apa-apa. Vila itu bangun perlahan. Debu masih bergantung di udara, menari di sinar matahari yang masuk miring dari timur. Roni terjaga oleh bau kayu tua yang mengembang, aroma yang entah bagaimana mampu menyisir pikiran dari dalam — menata yang kusut, menegakkan yang merunduk.
Ia duduk di tepi ranjang, memandang lantai papan yang retak di beberapa sisi. Di sisi jendela, buku harian lamanya tertelungkup — halaman terakhir masih menampakkan jejak anak kecil yang pernah menulis “aku mau jadi astronot tapi takut gelap”. Roni tersenyum mengingatnya. “Lucu,” gumamnya, “akhirnya aku bukan naik ke langit, tapi turun ke desa.”
Dari halaman belakang, suara air menetes pelan—sisa hujan semalam yang tertahan di ujung atap. Selebihnya sepi, sepi yang tidak menakutkan; sepi yang seperti ibu yang menepuk punggung anaknya sampai tertidur.
Ia keluar, melewati koridor sempit. Dinding memamerkan foto-foto lama keluarga Amarfi: ayah dengan senyum sempit yang tegas, ibu yang matanya penuh maaf, Ridhan kecil memeluk trofi lomba catur. Di foto paling ujung, Roni berdiri terlalu dekat dengan kamera—separuh wajahnya keluar bingkai. “Kamu selalu kebanyakan maju kalau disuruh foto,” Roni mendengar suara ibunya menggema dari jauh, lalu lenyap seperti kapur yang ditiup angin.
Di bawah tangga, rak besi yang doyong menyimpan arsip bertahun-tahun: peta kebun, kuitansi perbaikan atap, surat dari orang-orang yang kini mungkin tinggal pada bangku-bangku warung kopi dan hanya sesekali menyebut nama vila Amarfi sebagai kenangan. Roni menarik satu map kumal. Di dalamnya, kertas demi kertas berbau apek. Ada selembar peta yang lebih tua dari yang lain—garis-garis halusnya menunjukkan jalur yang menukik ke utara, melewati kebun, lalu berhenti di tanda kecil seperti mulut gua.
“Lorong lama,” Roni membaca catatan pinggirnya. Tulisan tangan ayah. Di bawahnya, sebaris kalimat: tanah ini pernah kita pinjam dari arang.
Roni mengerutkan kening. “Kita pinjam dari arang?” gumamnya, seolah berharap kertas berubah jadi orang dan menjawab. Di bawah peta, ada brosur perusahaan pertambangan yang warnanya menghitam dimakan usia. Logo bulat, slogan mudah dilupakan, dan sederet janji yang terdengar seperti doa yang tidak pernah benar-benar dihaturkan. Ia membayangkan dulu truk-truk berat menggigit tanah, menggali malam dari siang, lalu pergi ketika yang diinginkan sudah diangkut habis. Tanpo Arang: desa tanpa bara. Tapi benarkah tanpa?
Di halaman depan, suara sandal menggesek tanah. Roni menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu, topi kain pudar menutupi sebagian rambutnya yang putih, tubuhnya tegak namun ringkih seperti bambu yang pernah menahan musim dan musim lagi. Matanya bersih, bening seperti mata yang sudah terlalu sering melihat air tapi tidak pernah tenggelam.
“Pak Tarya?” Roni menyebut nama itu pelan, seolah takut memanggil sesuatu yang belum waktunya.
Lelaki itu tersenyum kecil. “Kamu tinggi juga sekarang,” katanya, suaranya serak seperti kertas tua yang dibuka perlahan. “Dulu kalau lari suka jatuh.”
“Sampai sekarang,” Roni nyengir. “Hanya saja jatuhnya bukan di lutut, di hidup.”
Pak Tarya tertawa pendek, batuk kecil menyusul. Ia melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, seperti orang yang pulang ke rumahnya sendiri. “Boleh saya lihat dindingnya?” tanyanya, tapi tangannya sudah menyusuri permukaan cat yang mengelupas. “Cat ini pudar cantik. Ada orang kota yang mau mengecat ulang, kubilang jangan. Pudar juga cerita.”
Roni melipat peta, menaruhnya di meja. “Pak, ini… jalur ke mana ya?” Ia menunjuk tanda mulut gua di peta.
Pak Tarya memicing. “Ah,” desahnya. “Jalan lama. Masuknya sempit, keluarnya lebih sempit. Di sana orang-orang dulu turun bawa bara, pulang bawa batuk.”
“Masih ada yang ke sana?”
“Sesekali. Anak-anak penasaran. Orang tua melarang. Larangan di sini bukan buat ditakuti, tapi buat diingat.”
Roni duduk, menepuk kursi di depannya. “Pak, orang-orang bilang Bapak suka ngomong sendiri. Bener, ya?”
Pak Tarya tidak tersinggung. Ia menaruh topi di pangkuan, lalu memandang keluar, ke kebun, ke pagi yang kini lebih terang. “Kalau dua orang bicara, itu namanya percakapan. Kalau satu orang bicara, itu namanya doa. Kalau doa tidak menunggu jawaban, itu namanya kesombongan. Saya cuma tidak sombong.”
Roni terdiam. Kalimat-kalimat Pak Tarya berjalan pelan, tapi selalu tiba di tempat yang tidak biasa. Seperti orang yang tahu jalan pintas, namun memilih jalur panjang karena menyukai pemandangan.
“Roni,” Pak Tarya memanggil namanya seperti sedang menyebutkan sesuatu yang lebih berat dari tiga suku kata. “Kamu kembali untuk apa?”
Roni tidak menjawab segera. Udara membawa bau tanah yang basah di bawah akar. Dari dapur, suara tikus lari kecil. “Aku… lupa cara tidur di kota,” katanya akhirnya. “Kupikir kalau pulang, aku bisa tidur.”
“Orang kota lupa tidur, orang desa lupa bermimpi,” ujar Pak Tarya. “Kalian berdua perlu saling pinjam.” Ia memandang peta yang dilipat, lalu menatap wajah Roni yang belum sepenuhnya keluar dari bayang masa kecil. “Ayahmu dulu menulis di pinggir peta itu. ‘Tanah ini kita pinjam dari arang.’ Dia benar. Bara diambil, tanah tetap menagih.”
“Menagih apa, Pak?”
“Janji,” jawab lelaki itu datar. “Janji itu ringan waktu di mulut, berat waktu di punggung.”
Roni merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Ia tidak tahu apa yang ayahnya janjikan, kepada siapa, dan kapan. Yang ia tahu, ada yang mengganjal lebih dulu dari kedatangannya sendiri. Nama itu semalam sudah muncul, berjalan di tepi suaranya seperti bayangan yang belum jadi kata.
“Pak,” katanya pelan, “tentang Tebing Cahaya. Mitos kunang-kunang itu… Bapak percaya?”
Pak Tarya mengedip lambat. “Kunang itu anak kecil dari gelap,” ujarnya. “Ia lahir kalau ada kata yang tidak jadi diucapkan. Di Tebing Cahaya, orang-orang datang dengan doa yang tidak lengkap. Kunang-kunang cuma menyalakan sisa hurufnya.”
“Jadi mitos itu bukan… kutukan?”
“Tidak ada kutukan yang tidak kita bantu sendiri,” kata Pak Tarya. “Tapi ada tanda-tanda yang baiknya kita hormati. Kalau orang berjalan bersama di bawah kunang, bukan berarti mereka tidak akan bersatu. Mungkin hanya berarti: ada jalan yang lebih jauh dari yang mereka kira.”
Roni menggenggam cuping telinga—kebiasaan yang selalu lakukan kalau bingung. “Aku takut Bapak benar.”
“Takut itu jembatan,” kata lelaki tua itu, menatapnya seperti menatap anaknya sendiri. “Yang penting, jangan betah di tengah.”
Dari halaman, suara langkah ringan mendekat. Ahyi muncul membawa dua gelas teh gula batu di nampan seng. “Pagi, Pak Tarya,” sapanya. “Kukira Bapak sudah lupa jalan ke vila.”
“Orang tua tidak lupa jalan, cuma jalannya jadi lama,” balas Pak Tarya.
Ahyi menaruh teh, duduk di pinggir kursi. “Roni, tadi aku lewat kebun… ada jejak babi hutan di ujung sana. Jangan jalan sendirian sore-sore kalau kamu baru bangun dari tidur panjang di kota.”
“Siap, Bu Kepala Suku,” Roni memberi hormat main-main. “Aku ditemani kamu saja.”
…Roni memperhatikan cara ia mengucapkannya: pelan, tidak dibuat-buat. Ada rasa ingin melindungi yang naik perlahan di dada Roni—tenang, bukan heroik.
“Jangan manja,” Ahyi menahan senyum. “Maya kalau lihat kamu begini pasti nyoret-nyoret daftar ‘hal-hal memalukan keluarga Amarfi’.”
Roni tertawa. “Maya? Masih suka pakai sepatu bunyi ‘tek-tek’ itu?”
“Sekarang bunyinya lebih pelan, tapi harganya lebih berisik,” jawab Ahyi. “Katanya sih, kalau vila ini dicat ulang, ia mau kirim arsitek temannya dari kota. Kataku: biar saja pudar. Pudar juga cantik.”
Roni melirik Pak Tarya. “Bapak lihat, kan? Aku punya sekutu.”
“Pudar adalah warna yang sudah selesai berdebat dengan waktu,” sahut Pak Tarya, membuat mereka berdua diam sejenak, antara ingin tertawa atau mengangguk. “Lira bagaimana?” ia bertanya ke Roni.
“Lira… masih di Surabaya sama Ibu,” jawab Roni. “Katanya lagi hobi ngumpulin stiker bintang. Mungkin dia tidak akan ingat vila ini. Terakhir ke sini dia masih belajar jalan.”
“Anak kecil selalu ingat tempat yang jatuh pertama kali,” ujar Pak Tarya. “Kalau bukan lututnya, ya hatinya.”
Mereka bertiga menyesap teh. Gula batu larut pelan, suara serangga menganyam ruang hening. Dari kejauhan, kentongan terdengar satu kali—tung—lalu diam. Seakan ada yang menegur, tapi malu mengulang.
“Pak,” Ahyi menoleh, nada suaranya berubah lebih rendah. “Tentang lorong lama di peta ini… Bapak yakin aman?”
“Tidak ada tempat yang benar-benar aman,” jawab Pak Tarya. “Tapi ada tempat yang mengajarkan kita berjalan benar. Lorong itu salah satunya. Jangan masuk kalau cuma mau berani-beranian.”
Roni menatap peta. Ada garis kecil ke arah barat laut, ke tempat yang di babak lain dalam hidupnya barangkali akan ia sebut sebagai “objek wisata dengan narasi heritage”. Ia geli sendiri dengan pikiran itu. Tiba-tiba ia teringat kakaknya. Ridhan selalu bisa mengubah sesuatu menjadi angka, angka menjadi rencana, rencana menjadi bangunan. “Kalau Ridhan lihat peta ini, dia pasti sudah menggambar brosur,” gumam Roni.
“Ridhan akan datang?” tanya Pak Tarya, tidak menatap Roni saat bertanya.
Roni mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Tapi biasanya, kalau aku ada di suatu tempat… ia akhirnya ada juga.”
“Cahaya dan bayangan tidak pernah berjalan sendiri,” ucap lelaki tua itu. “Mereka saling meminjam bentuk.” Lalu, hampir seperti mengubah topik, ia menatap Ahyi. “Kamu, Nyi, jangan berlama-lama di tepi tebing kalau malam. Kunang-kunang suka mengira orang yang diam terlalu lama adalah kata yang lupa pulang.”
Ahyi mengangguk kecil. Ada sesuatu di sorot matanya yang tidak sempat didefinisikan Roni. Ia ingin bertanya, tapi tidak jadi. Beberapa pertanyaan lebih baik dibiarkan tumbuh sendiri, seperti daun yang mencari matahari tanpa diberi tahu di mana timur.
“Pak,” Roni kembali memegang peta, “kalau ‘tanah menagih janji’… janji siapa yang Bapak maksud?”
Pak Tarya menghela napas, panjang, namun tidak berat. “Janji orang-orang yang pernah menambang gelap dari sini,” katanya. “Janji keluarga yang dulu bilang akan menjaga kebun, lalu sibuk dengan urusan kota. Janji-janji kecil di serambi rumah, yang bilang akan pulang waktu panen, tapi panen lewat tanpa suara langkah.”
Roni tertusuk oleh kalimat itu. Ia tidak tahu apakah yang disinggung adalah ayahnya, Amarfi lain, atau justru dirinya sendiri. Di luar, bayangan beringin melambai pelan, menghasilkan cahaya belang-belang di lantai, seperti pola yang ingin ia baca tapi hurufnya tidak dikenalnya.
“Kalau begitu,” Roni berkata akhirnya, suaranya seperti orang yang baru belajar mengeja, “apa yang harus kulakukan?”
“Dengar kentongan kalau malam,” jawab Pak Tarya, menatapnya seolah semua jawaban ada di sana. “Kalau ia bunyi sekali, ingat. Dua kali, tunggu. Tiga kali, cari. Empat kali, pulang. Jangan tertukar.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang menukar arti bunyi akan menukar arti hari,” katanya, berdiri sambil meraih topinya. “Dan hari yang tertukar tidak akan kembali pada namanya.”
Ia melangkah pergi. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menatap kebun yang masih basah di ujung-ujung rumput. “Roni,” panggilnya tanpa menoleh, “kalau kamu bertemu cahaya yang tidak berasal dari matahari, jangan buru-buru memotretnya. Dengarkan dulu apa yang ingin ia katakan.”
“Memotret?” Roni tertawa kecil. “Itu kerjaan Ridhan, Pak, bukan aku.”
“Semua orang memotret,” sahutnya. “Hanya saja tidak semua orang memakai kamera.”
Setelah ia hilang di balik pagar bambu, udara terasa lebih lapang, tapi juga lebih pekat. Seperti ada sesuatu yang baru saja diangkat dari tanah dan dibiarkan menggantung di langit-langit rumah.
Ahyi menyandarkan punggung ke kusen, menatap Roni. “Bapak Tarya kalau ngomong, ya.”
“Seperti rumus,” kata Roni. “Sederhana kalau sudah lulus ujian.”
“Kamu mau kemana habis ini?” tanya Ahyi.
“Ke gudang belakang. Mau lihat apakah masih ada apa-apa selain sarang laba-laba.”
“Aku ikut,” kata Ahyi, tapi tidak bergerak. “Nanti.” Lalu, tiba-tiba: “Roni, kamu… masih ingat jalan ke Tebing Cahaya?”
Roni menggeleng. “Aku ingat rasanya, bukan jalannya.”
“Rasanya?”
“Seperti berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak ingin kamu ganggu, tapi kamu tetap ingin tinggal sebentar.” Ia mengangkat peta. “Mungkin peta ini bisa bantu.”
Ahyi berdeham, memalingkan wajah. “Siang begini kunang-kunang tidur,” katanya, seolah bicara pada dirinya sendiri. “Bagus. Biar mimpi mereka tidak dicuri.”
Mereka akhirnya menuju gudang belakang. Pintu kayu membuka dengan bunyi yang sama seperti waktu kecil: lengkingan manja yang terlalu sering didengar sehingga tidak lagi mengganggu. Di dalamnya, udara lebih dingin. Tumpukan karung goni, alat kebun yang setengah berkarat, lampu minyak dengan kaca retak. Roni menemukan sebuah kotak kecil di rak, terkunci. Ia menggoyangnya—ada sesuatu yang bergerak di dalam, bunyi logam yang bertemu logam.
“Boleh kupecahkan saja?” katanya setengah serius.
“Jangan,” Ahyi menahan cepat—telapak kirinya sempat menyentuh lengan Roni. Hanya sekejap, tetapi cukup untuk membuat napas Roni terseret setengah langkah. “Kunci vila biasanya ayahmu selipkan di tempat yang tidak masuk akal.”
“Contohnya?”
“Di belakang foto ikan mas yang kamu benci.”
Roni tertawa, lalu berhenti tertawa ketika menyadari Ahyi benar. Di dinding, lukisan ikan mas yang sejak dulu membuatnya merinding karena matanya terlalu bulat. Di balik piguranya, benar: sebuah kunci kecil, dingin ketika disentuh. Kotak itu terbuka dengan suara klik yang memanjang. Di dalamnya, gulungan negatif film yang sudah lapuk, seutas tali dengan label kecil: lorong barat, dan kartu nama seorang kontraktor kota dengan catatan tangan: telepon Mei / izin? dan slip tipis bertuliskan angka-angka yang menyebut 17 ha di barat kebun, dua bidang lahan tidur di timur lembah, dan singgungan konsorsium tambang yang dulu.
Roni memandangi semuanya lama. “Ridhan akan suka ini,” ucapnya tanpa sadar.
“Sejak kapan kamu jadi juru bicaranya?” Ahyi menyenggol bahunya.
“Sejak aku tahu dia pandai mengubah benda menjadi rencana,” kata Roni. “Tapi aku tidak mau desa ini jadi brosur. Biar pudar saja, kan?”
“Pudar juga cantik,” ulang Ahyi, dan entah kenapa suara itu terdengar seperti doa yang sedang belajar jadi kenyataan.
Roni memperhatikan cara Ahyi mengucapkannya: pelan, tidak dibuat-buat. Ada rasa ingin melindungi naik perlahan di dada Roni—tenang, bukan heroik; semacam niat untuk menjaga terang tidak menjadi terlalu terang.
Di rak bawah, pigura foto kecil tergeletak miring. Roni mengangkatnya—lalu dunia mundur setapak: Roni kecil berlumuran lumpur, Ahyi kecil dengan rambut acak dan ember biru, dan di belakang mereka Ridhan kecil berdiri dengan tangan menyilang: wajah datar, bibir setipis garis, tatapannya tidak ke kamera—melainkan ke arah Ahyi.
“Masih ingat?” tanya Ahyi, setengah geli setengah malu. “Kamu nyebur ke kolam. Aku loncat juga, padahal airnya cuma sepinggang.”
“Dan aku panik karena ada kodok, bukan karena tenggelam,” Roni menutup muka. Tawa meletup. “Ayah marah tapi Ibu malah foto.”
“Mas Ridhan cuma bilang, biarin, biar kapok,” tambah Ahyi, meniru nada datar. “Dia berdiri paling jauh, tapi paling lama menatap.”
Roni terdiam setengah napas. Paling lama menatap. Kalimat itu menempel lebih lama daripada yang ingin ia akui. Ia menukar rasa yang datang dengan humor, kebiasaan selamatnya sejak dulu. “Kalau sekarang aku nyebur, kamu loncat lagi?”
“Sekarang aku ambil tali,” jawab Ahyi, tersenyum kecil. “Kita sudah tidak butuh dimarahi untuk belajar hati-hati.”
Kilasan lain menetes dari langit-langit ingatan, satu-satu:
— Roni dan Ahyi membuat markas rahasia di bawah meja makan. Mereka membagi peran: Ahyi “komandan kecil” yang menulis peraturan dengan kapur di lantai; Roni “logistik” yang membawa biskuit dan dua gelas air. Ridhan lewat, menatap, lalu berkata tanpa berhenti, “Kalian ganggu cahaya.” Saat itu Roni kesal; sekarang ia mengerti: cahaya yang dimaksud bukan lampu, melainkan ketenangan.
— Sore lain, mereka main kelereng di halaman. Roni mengatur lingkaran, Ahyi melempar terlalu keras, kelereng pecah. “Lihat? Kamu ribut,” kata Ridhan, memasang wajah tanpa ampun. Tapi di malam hari, Roni menemukan kelereng baru—mengkilap, lebih berat—dalam kaleng bekas. Tidak ada catatan, tapi ia tahu siapa yang menaruh.
— Suatu hari lepas hujan, Roni mendapati kamera plastik ayah tergantung di leher Ridhan. Di gulungan film, ada foto punggung Ahyi dari kejauhan: kecil, kabur, tetapi tampaknya lama diincar. Waktu itu Roni hanya menggerutu: “Kenapa Ahyi? Kenapa bukan langit?” Ridhan menjawab, dingin: “Langit tidak pindah tempat kalau kita menoleh.” Jawaban yang baru mengganggu Roni bertahun-tahun kemudian.
Kilasan-kilasan itu kembali seperti kunang-kunang di siang bolong: sesaat menyala, lalu padam, meninggalkan rasa panas samar pada kulit.
Dari kejauhan, kentongan berbunyi sekali lagi — tung — lalu diam. Roni melipat peta, menyelipkannya ke dalam ransel. Matahari sudah lebih tinggi; bayangan beringin memendek, menyisakan tempat yang lebih luas untuk cahaya yang merangkak pelan ke lantai.
“Kalau sore nanti kamu sempat,” kata Ahyi di ambang pintu gudang, “ikut aku ke sungai. Ada jalan pintas ke lereng tebing. Bukan Tebing Cahaya, tapi masih saudara.”
“Saudara yang baik?” Roni berpura-pura khawatir.
“Saudara yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam,” jawabnya. “Kamu perlu belajar diam juga, Mas Kota.”
“Tidak mungkin,” ujar Roni, tapi kali ini ia tidak tertawa. Ia justru mengamati gerak kecil di wajah Ahyi: caranya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, caranya memindah berat badan pada kaki kanan sebelum berbalik. Detail-detail yang—entah kenapa—membuat dunia terasa lebih fokus.
Siang menipis seperti kertas tipis di atas lampu. Di serambi, Ahyi menjemur kain, sedangkan Roni menyusun arsip di meja. Sekali-dua ia berhenti, hanya untuk mendengarkan rumah bernapas: derit kecil kusen, getar langkah jauh di jalan tanah, denging serangga yang menawar panas.
“Roni,” panggil Ahyi dari halaman, “masih ingat permainan tiga kata?”
“Tiga kata?”
“Yang dulu kita mainkan kalau hujan. Kita pilih satu benda, lalu tiga kata buat mendeskripsikan.” Ia menunjuk vila. “Vila Amarfi: pudar, degil, jujur.”
Roni tertawa. “Kamu menang. Oke, giliran aku. Ahyi:—”
“Eh, jangan,” potongnya cepat tapi tertawa. “Itu permainan berbahaya.”
Roni mengangkat tangan, menyerah. “Baik. Sungai di barat: dingin, licin, menyimpan.”
“Bagus,” kata Ahyi, dan ada sesuatu dalam bagus itu yang membuat Roni lebih tenang daripada teh panas. “Kalau begitu, Tebing Cahaya?”
Roni berpikir sebentar. Ia memandang ke utara, ke arah yang tidak terlihat dari serambi. “Jauh, tipis, menunggu.”
“Kamu masih ingat rasanya,” kata Ahyi lebih pelan. “Bukan jalannya.”
Roni mengangguk. Bukan jalannya. Kata-kata itu membentuk jembatan kecil di antara mereka—tipis, rapuh, tapi cukup untuk satu langkah.
Menjelang sore, mereka berjalan ke kebun belakang. Jalan tanah mengantarkan bau kayu muda, daun pepaya, dan sesuatu yang selalu samar-samar saja: bekas api yang padam semalam. Ahyi berjalan lebih dulu, Roni mengikuti dari sisi dalam, kebiasaan lama agar Ahyi tidak menyentuh semak berduri. Mereka tidak membicarakan masa depan; mereka juga tidak membicarakan masa lalu. Yang mereka lakukan: berjalan, meneguk sore.
Di tepi kebun, ada bekas kolam kecil—kini dangkal dan dipenuhi lumut. Roni berhenti, menatapnya lama; Ahyi ikut berhenti, dan mereka tertawa bersamaan, tanpa komando.
“Masih mau loncat?” Ahyi mengangkat alis.
“Sekarang aku ambil tali,” jawab Roni.
“Tadi pagi kamu mau diantar,” kata Ahyi. “Sekarang kamu mau ambil tali. Perkembangan yang bagus.”
Roni menoleh. “Kamu juga berkembang. Dulu kamu komandan kecil yang cerewet. Sekarang… tetap cerewet, tapi memilih kata-katamu.”
“Kalau tidak memilih, nanti tidak ada ruang untuk diam.”
“Katamu tadi aku perlu belajar diam.”
“Perlu,” sahut Ahyi. “Supaya kamu bisa dengar bunyi lain saat kentongan cuma bunyi sekali.”
Roni tidak bertanya bunyi apa. Ia menaruh kata-kata itu di saku, bersama kunci kecil dan peta. Ada kalimat yang tak boleh dipaksa tumbuh; ia harus menunggu hujan sendiri.
Menjelang petang, mereka kembali ke vila. Roni membereskan map, Ahyi merapikan kain jemuran. Di meja ruang tamu, peta terlipat rapi seperti amplop yang belum dikirim. Roni menatap tulisan pinggir ayah—tanah ini pernah kita pinjam dari arang—dan merasakan beban kata pinjam tumbuh berat di punggung.
Ia teringat satu kilas lagi—mungkin paling sederhana, mungkin paling keras kepala untuk dilupakan:
— Sore sangat lama dulu, sesudah hujan, Roni dan Ahyi duduk di serambi, menggambar peta harta karun di kertas bungkus gula. Ridhan lewat, melirik sebentar, lalu duduk tanpa diminta. “Kalau peta hanya garis,” kata Ridhan kecil, “orang akan tetap tersesat.” Ia merobek kertas itu menjadi dua, menggambar ulang, menambahkan tanda kecil di tikungan: pohon jambu, batu yang mirip ayam, bekas banjir; lalu ia menulis di pinggirnya, hurufnya rapi, terlalu rapi untuk anak kecil: ingat angin. Waktu itu Roni kesal karena peta favoritnya dirobek. Bertahun kemudian ia baru paham: Ridhan mengajarinya bahwa jalan pulang tidak selalu setia pada garis.
Roni tersenyum kecil pada ingatan itu—senyum yang tidak ia tunjukkan pada siapa pun. Ia menyelipkan peta ke dalam ransel. Dari dapur, bunyi piring bertemu piring, lalu wangi nasi yang baru saja mengangkat diri.
“Roni,” panggil Ahyi dari dapur, “tehmu keburu dingin.”
“Biar,” kata Roni. “Dingin juga cerita.”
Ia berjalan ke ambang pintu, menatap kebun satu kali lagi. Pagi sudah menjadi siang, siang mulai condong ke senja; tetapi rasanya pagi hanya bergeser sedikit dari tempatnya—seperti halaman buku yang setengah terangkat angin, menunggu tangan sabar untuk membalik.
“Masih mau ke sungai?” tanya Ahyi, suaranya biasa saja, seperti menanyakan garam.
“Kalau kamu masih tahu jalannya,” jawab Roni.
“Aku selalu tahu jalannya,” kata Ahyi. “Yang tidak selalu kutahu: siapa yang ingin pulang.”
Roni hendak menjawab, tapi dari kejauhan kentongan sekali—tung—lalu diam. Mereka berdua menoleh ke arah yang sama, kemudian saling pandang, lalu sama-sama menahan diri untuk tidak mengartikan terlalu cepat.
Di luar, jauh di tempat matahari akan jatuh, Tebing Cahaya menunggu. Tidak berjanji apa pun. Tidak menakuti siapa pun. Hanya menunggu—sebagaimana batu menunggu pijak, sebagaimana malam menunggu lampu-lampu kecil menyebut namanya sendiri.
Dan di antara tunggu yang tenang itu, nostalgia merambat seperti akar—pelan, tak terdengar, tapi pasti mencari airnya sendiri. Roni belum menyebutnya suka. Ia hanya menyebutnya ingat. Dan kadang, ingat adalah cara paling jujur untuk memulai sesuatu yang belum berani dinamai.
linschq










Roni sama Ahyi chemistrynya dapet banget berduaaa... Gaya bahasanya sukaa... puitis, tapi enggak yang terlalu mendayu-dayu. Ibaratnya dessert manisnya pas. Hehehehe...
Comment on chapter Chapter 1 Jejak Langkah di Desa Tanpo Arang