Loading...
Logo TinLit
Read Story - Tebing Cahaya
MENU
About Us  

Di kota, siang bekerja seperti penjahit tua yang hafal semua ukuran: ia mengukur sudut gedung, menggunting bayangan, lalu menjahit waktu dengan jarum jam yang kepala-nya terbuat dari angka. Di lantai tiga puluh, ruangan Ridhan selalu lebih dingin setengah derajat dari lorong—bukan untuk gaya, melainkan untuk mendisiplinkan pelebaran pikiran. Dingin di situ bukan cuaca, melainkan keputusan.

Atap gantung menahan lampu-lampu panel yang merata, tanpa aksen; dinding kaca memantulkan kontur kota dalam pola yang terlalu rapi untuk dipercaya; meja panjang menyimpan dua benda yang tak pernah benar-benar saling menatap: laptop yang kurus dan kamera yang padat. Laptop memantulkan siluet mulus kehidupan yang dapat diaudit. Kamera menyimpan cela yang dengan sengaja dibiarkan hidup: bekas gesekan ring lensa; lapisan tipis minyak yang tak sempurna di kaca; goresan rambut di layar belakang yang hanya akan terlihat bila cahaya masuk miring. Di dunia Ridhan, dua benda itu berdamai seperti dua orang yang paham: yang satu membangun masa depan; yang satu memberi masa depan alasan.

Rapat jarak jauh berderak dari speaker. Slide tumbuh seperti kebun grafik—batang hijau menanjak, garis biru melandai, potongan kalimat berwarna jingga mengklaim masa depan yang sudah setuju menjadi presentasi.

Window of opportunity kita pendek, Rid,” suara di layar menggeser udara. “Bekas tambang itu bisa kita bungkus jadi revitalisasi pengalaman: jalur sejarah, immersive gallery, narasi warga. Orang kota suka rasa bersalah yang difoto cantik,” ujarnya ringan, seperti menyebut menu sore.

Di layar lebar yang menempel pada dinding, wajah-wajah mengecil dalam kotak-kotak rapih—Project Finance, Risk, Brand, Legal—masing-masing dengan latar belakang putih bersih, tanaman plastik yang tidak pernah mati, dan suara yang seolah berasal dari ruangan yang semuanya memakai karpet.

Scope kita jelas,” kata seseorang dengan suara tajam. “Aset Amarfi di Tanpo Arang itu bukan cuman vila. Kita bicara kebun seluas 17 hektare, dua bidang lahan tidur di sisi timur lembah, dan kepemilikan saham mayoritas dalam konsorsium tambang lama. Nama keluarga melekat. Kalau kita kemas sebagai revitalisasi ekowisata+heritage, narasinya kuat.”

“Data?” potong Ridhan. Suaranya tidak tinggi. Datar, tapi terasa seperti garis lurus yang menolak dipatahkan.

“Masih kita kumpulkan, Mas Rid. Early sensing: pH di danau eks tambang mungkin—”

“Jangan pakai kata mungkin,” Ridhan menekuk satu alis. “Kalian kirim angka. pH, TSS, logam terlarut. Batimetri sederhana. Kontur tebing. Kalau tidak ada angka, ini hanya brosur.”

Ada jeda kecil di ujung kabel internet. Lalu suara lain, lebih halus: “Brand siap. Storytelling bisa didorong. Viewing deck, immersive gallery yang rapi. Orang kota suka rasa bersalah yang difoto cantik.”

Ridhan memindahkan kursor, menutup salah satu jendela yang terlalu bersemangat. “Kalau kalian jual bahaya fotogenik, kalian akan beli headline. Dan kita tidak beli headline untuk keluarga.”

Draft izin?” suara Ridhan dingin, singkat. Tidak ada ornamen kecil dalam suaranya; ia menghindari kata-kata yang gemuk. “Didorong dari kabupaten bisa. Lebih mudah kalau keluarga pemilik lama ikut bicara. Vila Amarfi itu—pintu cerita. Kamu turun dulu. Tangkap suasana. Kita kemas.”

Family council menunggu kabar, Din,” suara ketiga menyusul—Amira Amarfi, sepupu yang selalu terdengar seperti seseorang yang berhasil menawar waktu di aplikasi kalendernya. “Tante Laila sudah tanya tiga kali soal timeline.

Timeline menunggu data. Aku turun,” ujar Ridhan. “Aku akan lihat langsung. Due diligence bukan rumor.”

“Jangan kesana sendirian terlalu sering,” sahut Amira lebih pelan, menandai bahwa di balik suaranya yang kota, ia mengenali kata “lorong”. “Desa itu… suka mengubah arah orang.”

Ridhan menutup panggilan tanpa basa-basi. Di ruangan, AC menghembuskan dingin yang disiplin; di meja, kamera berbaring sejajar dengan laptop—dua benda yang bertengkar diam-diam soal cara mengingat.

Ia mematikan laptop. Bunyi magnet kecil di tepi layar terdengar seperti titik di ujung kalimat. Dengan kamera, ia memotret lampu meja: f/1,8, ISO 200, 1/60. Bokeh di belakang lampu meleleh seperti gula. Ia tidak sedang mencari keindahan; ia sedang memanaskan mata.

Ia menghidupkan kamera. Lensa 35mm sudah di tempat, ring fokus berputar halus pada ujung jari: f/1.8—bukaan yang menoleransi gelap dengan kelembutan, ISO 200, 1/60. Lampu meja berkepala kain menjadi kelinci uji. Klik. Bokeh di belakang lampu pecah seperti kenangan yang sadar diri: lumer, tapi tidak jatuh. Foto itu tidak mengubah dunia; namun kadang, memulai adalah satu-satunya cara untuk tidak berunding dengan keraguan terlalu lama.

Jalan menuju Tanpo Arang menekuk ambisi kota dengan elegan. Dari tol, mobil menyamping ke jalan kabupaten yang menjahit pasar ikan—wangi asin yang tumpah ke aspal, tukang cukur yang kursinya ikut mengintip jalan, sekolah dasar yang bunyi belnya selalu ingin terdengar lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Lalu tanah merah: suspensi berdoa, roda membaca aksara batu, debu naik seperti doa yang tidak diputuskan, dana-dana kecil di udara.

Ridhan berhenti di warung yang menolak berganti cat selama dua dekade. Bangku kayu miring karena selalu diduduki dari sisi yang sama. Termos air panas warna merah tua dengan goresan yang menceritakan perjalanan panjang ke meja. Radio tua yang suaranya seperti paman yang tidak pernah benar-benar pergi meski semua pesta sudah selesai. “Teh manis,” katanya. Dua kata, cukup.

“Mas Amarfi?” mata ibu warung menyipit, mencari masa kecil yang terselip di tulang pipi orang dewasa. “Ridhan,” koreksinya. Datar.

“Mas Roni sudah datang duluan. Sama Mbak Ahyi.” Ibu itu menuang teh. “Semalam kentongan bunyi sekali.”

Kentongan. Sekali. Ingat. Ridhan tidak menanggapi. Ia meneguk manis yang selalu lebih manis daripada kota; menaruh uang pas, tidak meminta kembalian yang kecil; pergi tanpa bunyi sandal, hanya bunyi udara yang memberi jalan karena tubuhnya meminta sedikit tempat untuk tidak menabrak.

Vila Amarfi menua dengan kesopanan. Cat pudarnya seperti foto lama yang tidak diberi pigura baru agar tidak terhina oleh kesempurnaan modern. Kayunya lapuk pada sudut yang pada akhirnya akan menyetujuinya, namun kusennya tetap tegak seperti orang yang menua tanpa rencana untuk meminta maaf. Jendela tahu cara berderit yang tidak membuat orang marah—semacam kebiasaan lama yang, karena dilakukan cukup lama, diterima sebagai musik rumah.

Roni berdiri di serambi, mengayun peta yang kusut seperti rambut yang selalu menolak sisir.

“Datang juga,” katanya.

“Aku tidak pernah bilang tidak,” jawab Ridhan.

“Kamu juga tidak pernah bilang iya,” Roni nyengir.

“Supaya orang tidak menyiapkan harapan.” Kalimat Ridhan menutup pintu percakapan dengan suara yang tidak menunggu klik.

Ahyi keluar dari dapur, nampan seng di tangan, dua cangkir dengan bibir retak. Rambutnya diikat asal, serpih tepung menempel pada ruas-ruas jarinya. “Masuk. Sebelum nyamuk mengira kalian parade malam.”

Ridhan menoleh sekilas. Cukup untuk jantung yang disiplin mengingat cara lupa berdetak. Ia menatap cangkir, bukan mata. “Terima kasih.”

“Kamu makin dingin,” ujar Ahyi.

“Bagus,” Ridhan cepat. “Dingin bikin orang tidak betah berlama-lama.”

“Kalau gitu aku duduk lebih lama,” Ahyi menaruh cangkir, senyum yang lebih mirip garis yang menolak lurus.

Ridhan mengangkat kamera, ring fokus mengerik halus seperti surat lama dibuka. Ia memotret lampu minyak di meja. Klik. Lebih mudah memotret api daripada menjelaskan kenapa kita menontonnya.

Roni tertawa pendek. “Kamu tidak berubah.”

“Orang yang sering berubah biasanya tidak selesai,” jawab Ridhan, menatap dinding, bukan wajah.

Ahyi mendengus seperti kucing yang terkejut oleh daun. “Kalau bicara, kamu seperti pisau sayur. Tidak tajam, tapi bikin orang enggan makan.”

“Kalau kamu masih bicara, berarti belum cukup tajam.” Datar. Lalu diam yang tidak meminta penjelasan.

Udara di ruang tengah vila mengembang pelan, seperti roti yang disimpan di kain basah—tenang, sabar, dan mempersiapkan dirinya untuk semacam bentuk yang akan diambil kapan-kapan.

Malam tidak datang di Tanpo Arang; malam menjadi. Lampu minyak menumbuhkan bola kecil cahaya yang riang namun terdidik. Bayangan cangkir jatuh seperti bulan sabit ke meja. Roni tertidur di kursi panjang, peta menutupi perutnya; napasnya sesekali meminjam suara masa kecil.

Ridhan sendirian dengan kameranya. Ia membolak-balik file di layar kecil yang jujur: lampu, dinding retak, tangan ibu warung yang lincah sebagai liturgi sehari. Lalu—tanpa ia ingat menekannya—punggung Ahyi di ambang dapur muncul. Bahunya—tidak sempurna, ada sedikit garis kain yang terlipat; rambut terangkat angin kecil yang entah masuk dari celah mana; udara di antara punggung dan pintu seperti ruang yang memegang napas.

Kata itu datang dari lorong yang ia simpan di kepalanya: Subjek Senja. Bukan “objek”. Subjek—yang tidak bisa ia posisikan semaunya tanpa merusak akal sehat gambar. Senja—bukan siang, bukan malam; jam yang ragu; waktu yang menolak memutuskan.

Ia mematikan layar. Tidak tersenyum. Tersenyum akan menjadi kecerobohan. Kamera ia letakkan di meja seperti menaruh rahasia ke telapak meja. Dingin di ruangan tetap tinggal—tapi di bawah kulit dingin itu, seutas kawat halus tiba-tiba membawa listrik kecil.

Subuh menyandarkan tubuhnya ke pinggir langit.

Pagi di Tanpo Arang datang seperti seseorang yang mengetuk pelan: tidak ingin mengejutkan, tapi juga tidak mau menunggu terlalu lama. Kabut tipis menggulung dari lembah, naik pelan menyentuh pagar bambu, mengusap rumput yang lupa bagaimana rasanya kering. Di serambi vila, udara masih menyimpan sedikit dingin dari malam, dingin yang membuat kata-kata enggan keluar terlalu cepat.

Roni bangun lebih dulu. Rambutnya kusut, kausnya miring ke kiri, wajahnya menyimpan sisa mimpi tentang bakwan. Ia merogoh saku, mengeluarkan kunci dan secarik kertas yang dilipat dua kali. “Aku ke balai desa,” katanya sambil mengangkat peta seperti trofi kecil. “Pak Lurah bilang ada arsip tanah lama. Katanya ada catatan pinggir Ayah. Aku mau cek.”

“Pergi,” sahut Ridhan tanpa menoleh, sedang mengusap lensa dengan kain mikrofiber yang bersihnya seperti sumpah yang baru diucap. “Jangan bawa pulang kopi yang terlalu manis.”

Roni nyengir. “Kopi manis meringankan hati.” Ia menepuk bahu Ridhan. “Kamu gimana? Ikut?”

Ridhan memasang lensa 35mm hingga berklik kecil; bunyi itu seperti seseorang yang menutup laci dalam hati. “Aku survey. Barat. Lihat bekas area tambang. Foto situasi. Cukup.”

“Sendirian?”

“Sendirian,” ujarnya, datar seperti papan tulis kosong.

Roni melirik Ahyi yang baru keluar dari dapur dengan gelas-gelas yang masih hangat di tangan. “Kalau bisa, jangan sendirian. Setidaknya bawa pemandu yang tahu jalannya.”

Ridhan menutup penutup lensa. “Peta lebih jujur dari orang.”

“Peta tidak cerita di mana tanah runtuh kemarin sore,” sela Ahyi, meletakkan gelas di meja. Uap teh naik pelan, menggulung di antara mereka seperti doa yang belum yakin ditujukan pada siapa.

Roni menatap dua orang itu bergantian. Ia tahu medan ini lebih licin bila debatnya diteruskan. “Sudah, biar kutemui arsip dulu. Siang nanti ketemu di vila. Bawa kabar dan… jangan bawa masalah.” Ia mengedip cepat pada Ahyi, lalu pergi dengan langkah yang menyenggol serangga di bawah pintu.

Pintu menutup. Sunyi sesaat. Di luar, burung-burung menukar kabar di atas pagar. Di dalam, meja kayu memantulkan cahaya lampu minyak yang belum padam sempurna—cahaya kecil, keras kepala, menolak mati sebelum benar-benar yakin semua orang sudah bangun.

“Barat,” kata Ridhan. “Aku berangkat.”

Ahyi menurunkan tatapannya ke cangkir, bukan ke wajah Ridhan. “Kalau kamu ke barat, kamu lewat jalan mana?”

“Jalan,” jawab Ridhan.

“Jalan yang mana?”

“Yang menuju barat.”

Ahyi menghela napas, memutar cangkir setengah lingkaran. “Tanah di sana suka mengganti pikirannya setelah hujan. Kemarin malam ada. Jalur sempit di tikungan jati amblas. Kamu bisa lewat, tapi kalau salah injak, kamu jadi cerita.” Ridhan mengangkat ransel, menyeimbangkan strap kamera. “Aku bukan orang yang mudah jadi cerita.”

“Semua orang mudah,” sahut Ahyi. “Yang sulit itu mau didengarkan atau tidak.”

“Tidak usah ikut.”

“Aku tidak mau ikut,” katanya, meletakkan cangkir. “Aku akan berjalan ke barat untuk urusanku sendiri. Kalau kamu kebetulan lewat jalan sama, ya itu kebetulan.” Ia mengambil caping di dinding, menepuknya pelan, lalu berjalan mendahului seraya membawa ember kosong—alasan praktis yang tidak butuh disetujui siapa pun.

Ridhan menahan satu helaan napas yang tidak jadi. Ia ingin menyuruhnya pulang, menutup adegan, menunggu sunyi datang. Tapi mulutnya hanya berkata, “Jangan terlalu dekat.” Padahal yang ia maksud: jangan terlalu dekat denganku.

Jalan setapak dimulai tepat ketika peta berakhir. Rumput basah menyeka mata kaki, tanah merengkuh tapak sepatu tanpa banyak bicara. Hutan mengajarkan caranya menekan suara sendiri: dahan-dahan yang terlalu rendah ditahan Ahyi agar tidak menyentuh wajah, batu-batu kecil dipindahkan dengan ujung kaki tanpa komentar panjang. Di sisi kiri, batang jati berdiri seperti huruf-huruf tegak dalam buku anak; di sisi kanan, kebun liar mengeluarkan bau samar daun pepaya dan kayu muda.

“Ini jalur pendek,” kata Ahyi. “Kalau mau jalur panjang, lewat sungai. Tapi kamu akan bertukar waktu dengan pijakan licin.”

Ridhan tidak menyahut. Kamera di lehernya memantul halus setiap langkah, seperti jantung yang minta diingat. Ia mengangkat kameranya sebentar, mencoba mengukur kedalaman cahaya di sela daun. f/2.8, ISO 400, 1/200. Klik. Daun jati dengan lubang kecil yang digerogoti serangga, latar belakang meleleh seperti gula basah.

“Foto daun?” Ahyi menoleh singkat.

“Daun lebih jujur dari orang,” Ridhan mengulang nada yang tadi ia pakai untuk peta.

“Daun juga jatuh kalau waktunya,” sahut Ahyi. “Orang kadang tidak.”

Jalur memetakan lengkung kecil. Di satu tikungan, tanah memerah, lembek, jejak kaki tersisa seperti tanda baca yang tidak selesai. “Ini,” kata Ahyi, menahan lengan Ridhan tanpa menyentuhnya, hanya gerak udara. “Bibirnya rapuh. Injak di sisi akar yang muncul. Jangan di tanah polos.”

Ridhan ingin berkata ia tahu, ia bisa mengira, ia cukup melihat tekstur. Tapi ia melangkah ke arah akar juga. Menerima pengetahuan tanpa merendahkan yang memberi. Langkahnya aman. Ia tidak berterima kasih. Ia menyisakan kalimat itu di belakang giginya.

Mereka tiba di tanah yang lebih tinggi. Udara berubah. Hutan menipis, horizon terbuka. Dari sini, tebing di kejauhan tampak seperti punggung binatang yang tidur terlalu lama. Dan di bawah tebing-tebing kecil yang patah di pinggirnya, danau bekas tambang menampakkan permukaan toskanya yang terlalu tenang untuk dipercaya.

Ahyi berhenti, menurunkan ember. “Kita sampai.”

“Danau itu,” kata Ridhan, lebih kepada kameranya. “Aku lihat.”

“Lihat,” jawab Ahyi. “Lalu ingat.”

Danau itu—bukan hijau, bukan biru. Toska. Warna yang lahir dari logam dan ketiadaan. Permukaannya halus, seperti kulit yang tidak punya pori. Di tepi, tanah runtuh membentuk dinding kecil sepanjang dua telapak tangan, rapuh seperti kue yang salah resep. Buih kecil naik sesekali, meletup pelan, seperti seorang tua yang menghela napas setelah lama menahan cerita.

Papan miring di sisi barat menancap pada dua kayu yang dimakan musim: DILARANG BERENANG. Huruf-hurufnya patah di bagian perut. Ada lumut yang bekerja lebih telaten daripada aparat.

Ridhan tidak mendekat. Dua langkah dari bibir tanah, ia berhenti. Di tubuhnya ada semacam palang pendek yang selalu muncul di jarak tertentu. Ia mengakat kamera.

“f/4. 1/320. ISO 100.” Ia menyebut angka-angka dengan nada seorang akuntan membaca kebenaran. Klik. Permukaan air menjadi kisi-kisi cahaya. Ia ganti metering ke spot, menakar highlight. Histogramnya condong ke kanan; ia turunkan 0,7 EV. Klik lagi. Garis batas toska dan tanah merah terpotong tajam, bersih, seolah itu memang garis resmi antara hidup dan keinginan.

“Jangan terlalu dekat,” kata Ahyi, suara datar, tidak memohon, tidak memerintah—hanya mengumumkan aturan main.

“Kalau aku jatuh, aku memegang kamera,” sahut Ridhan.

“Kamera bisa dibeli lagi.”

“Foto tidak.”

Ahyi menatapnya. Tatapannya jarak pendek, intens tanpa bahan bakar. “Nyawa tidak punya reprint, Mas.”

Ridhan menekan penutup lensa dengan bunyi klik yang terlalu keras dari seharusnya. Ia ingin berkata kau tidak bisa diganti, tapi kata-kata itu menolak keluar dengan bahasa manusia. Ia menunduk, mengutak-atik strap. Jemarinya mengetuk-ngetuk ring fokus tanpa tujuan, menyalurkan ketegangan seperti kabel kecil yang tidak mau menampakkan api.

“Dua tahun lalu,” kata Ahyi, tidak menatapnya, menatap air, “anak kelas dua SMP mau lompat dari batu itu. Temannya sorak-sorai. Kakinya hilang sampai lutut dalam dua detik. Untung kausnya longgar. Satu bapak menariknya. Sekarang dia selalu lewat jalur lain.”

Ridhan memotret batu itu. 1/250, f/2.8. Lumut kecil menakik di sudut, garis kecil seperti kuku di permukaan—bukti panik yang pernah terjadi. “Tinggi tebing?” ia bertanya, bukan karena ingin, tapi karena perlu. “Kontur turun berapa derajat dari bibir?”

“Turun cepat,” kata Ahyi. “Dua langkah: lutut. Tiga: pinggang. Setengah lagi: hilang.”

“pH?”

“Air di sini tidak suka ditanya angka oleh tamu.”

Ridhan menarik napas. Asam samar menempel di pangkal lidah. “Logam. Sedimentasi halus.” Ia memotret pantulan awan yang terbelah oleh potongan kayu. “Kalau ada signage dan pagar?”

“Signage hanya bekerja pada orang yang punya niat pulang.”

Ridhan hampir tersenyum—hampir. “Kalimat yang bagus. Tidak ilmiah.”

“Barang tidak perlu ilmiah untuk menyelamatkan orang,” balasnya. “Kadang kalimat pendek menyelamatkan lebih cepat daripada laporan panjang.”

“Kamu selalu begitu?” Ridhan menoleh sedikit. “Menyimpulkan.”

“Orang desa butuh simpulan untuk bekerja. Tidak semua punya waktu membaca muqaddimah.

Angin mengusap permukaan air, membentuk garis-garis yang berpapasan, saling menyapa seperti orang bertemu di lorong pasar. Seekor capung menyeberang rendah, sayapnya menangkap cahaya menjadi kilau sekilas, seperti koin kecil yang dilempar pada permukaan langit.

“Kamu tidak usah ikut,” ucap Ridhan tiba-tiba, seperti orang yang baru ingat pada awal kalimat. “Aku bisa sendiri.”

“Aku tidak ikut,” jawab Ahyi. “Aku kebetulan lewat jalan yang sama. Aku harus cek papan larangan itu sebelum sore angin ganti arah. Kalau roboh, besok anak-anak mengira air ini berubah pikiran.”

“Dan kamu peduli.”

“Peduli itu pekerjaan sampingan di sini,” katanya ringan. “Pekerjaan utama: memastikan besok bisa ditagih.”

Ridhan mengangkat kamera lagi. Ada pantulan bayangan mereka di air—memanjang, bersisian, tidak bersentuhan. Ia tidak memotret. Ia merasa kalau ia memotret bayangan itu, ia sedang mencuri sesuatu yang belum meminta untuk dicuri.

“Subjek senja,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

“Apa?” tanya Ahyi.

“Tidak,” katanya. “Istilah.”

“Untuk apa?”

“Untuk sesuatu yang tidak minta diberi nama.”

“Kalau begitu, jangan diberi,” ucapnya.

“Kadang manusia perlu nama untuk menahan diri.”

“Kadang manusia perlu menahan diri dari memberi nama.”

Buih kecil lagi. Plop. Plop. Dua kali saja, lalu hening lagi. Hening bukan milik danau; hening milik orang yang berdiri di tepinya.

“Mari,” kata Ahyi, akhirnya. “Sebelum cahaya menipis. Jalan pulang selalu lebih pendek kalau mata tidak menawar.”

“Jalan pulang lebih panjang kalau orang di sebelah terlalu cerewet.”

Ahyi mendengus, menahan tawa yang ia anggap sebagai kemewahan di tepi air seperti ini. “Aku cerewet karena kamu keras kepala.”

“Kamu keras kepala karena kamu peduli.”

“Kalimat yang benar jarang terdengar cantik,” sahutnya.

Mereka berbalik. Ridhan menatap sekali lagi permukaan toska. Ia tahu, foto-foto bisa menggoda orang untuk datang tanpa membawa rasa takut yang cukup. Ia masukkan kamera ke tas, menutup resleting. Bunyi logam itu seperti garis bawah pada kesimpulan yang sementara.

Pulang lewat jalur yang sama, hutan terlihat berbeda bila cahaya datang dari belakang. Daun yang tadi hijau sekarang memancarkan kawasan tipis kuning, seperti cat air yang salah tempat. Di satu titik, Ahyi berhenti, memungut potongan kain merah kusam tersangkut di semak; mengibaskannya sekali, menjemurnya di dahan rendah.

“Itu apa?” tanya Ridhan.

“Sisa acara minggu lalu,” jawabnya. “Orang suka menandai bahagia, tapi jarang menandai hati-hati.”

“Kamu menandai?”

“Kalau bisa.”

“Aku tidak suka tanda yang berlebihan,” ujar Ridhan. “Tanda membuat orang merasa sudah mengerti.”

“Tidak semua tanda adalah kesombongan,” Ahyi melangkah lagi. “Beberapa tanda adalah cara agar kita tidak saling menunggu di tempat yang salah.”

Ridhan diam. Kata-kata itu nyaris memelintir sesuatu di balik tulang dadanya. Ia menempelkan tangan ke strap kamera, menekan tali itu ke tulang selangka. Sensasi kecil itu seperti tanda centang di kertas: sadar.

Mereka mencapai perbatasan kebun, suara ayam dari jauh seperti tawa yang disisipkan ke dalam kain. Vila terlihat, jendela-jendela tua memantulkan siang yang sudah matang. Di serambi, Roni duduk dengan map di pangkuannya, telunjuknya memegang pensil seperti antena.

“Arsip,” katanya begitu dua orang itu naik tangga. “Ada catatan pinggir Ayah. Tanah ini pernah kita pinjam dari arang. Kembalikan dengan sesuatu yang bisa ditanam. Aku foto halamannya, tapi kertasnya sudah rapuh. Aku minta izin buat scan besok.”

“Baik,” kata Ridhan, duduk. Suara kursi merengek, kayu tua mengingat beban baru.

Roni menatap kakaknya, lalu melirik Ahyi. “Kalian ke barat?”

“Survey,” jawab Ridhan singkat.

“Danau?”

“Danau.”

Roni menghela napas. “Bagus kamu nggak mati cantik.”

“Kalau mati, bukan aku yang cantik,” sahut Ridhan. “Air yang cantik.”

“Kontraktor tadi kirim pesan,” lanjut Roni, mengangkat ponsel jadul yang menampung pesan seperti kotak surat yang malas. “Mereka minta jadwal presentasi. Deg-deg-an kayak pengantin baru.”

“Bilang belum,” kata Ridhan. “Minta data hidrologi. pH, logam terlarut, kedalaman bertahap, kontur tepi. Tanpa angka, mereka hanya pedagang lampu.”

Roni mengangkat alis, menahan tawa. “Pedagang lampu,” ia mengulang. “Oke. Aku akan minta mereka jualan siang.”

Ahyi menaruh ember di pojok, kakinya menunjukkan bekas garis lumpur yang sudah kering. “Kalau mereka ngotot bikin deck di tepi air, aku akan bawa semua ibu-ibu rapat. Kalau rapat ibu-ibu, lampu apa pun bisa padam.”

Ridhan menatapnya sebentar. Hampir seperti senyum, tapi tidak lengkap. “Itu data yang tidak bisa dilemahkan.”

Roni merapikan kertas. “Pak Tarya tadi mampir. Katanya kentongan tadi malam bunyi sekali, ingat. Aku bilang, kita ingat.”

“Ia bilang apa lagi?” tanya Ridhan.

“Dia bilang, kalau lihat cahaya kecil, jangan buru-buru memotret.”

Ridhan menunduk ke meja, menelusuri gurat lama dengan ujung jarinya. “Dia suka menganggap semua orang punya kamera di dada.”

“Beberapa orang punya,” kata Roni.

Ahyi berdiri lagi, mengambil kain lap, menyeka serpih-serpih debu dekat jendela. “Beberapa orang menaruh kameranya di mulut. Setiap kata jadi bingkai. Kita cuma bisa keluar-masuk.”

Ridhan mengangkat kepala. “Kamu menuduh aku?”

“Tidak,” ujar Ahyi. “Kalau menuduh, suaraku naik.”

“Kamu tidak bisa menaikkan suara,” kata Ridhan. “Kamu terlalu tahu cara memotong.”

Roni berdiri sebelum dua orang itu memasuki bentuk lain dari keheningan. “Aku ke dapur. Lapar.” Ia berjalan melewati mereka seperti orang yang tahu cara menyelamatkan percakapan dari banjir.

Ridhan bersandar. Kamera di meja, penutup lensa terpasang. Di kaca jendela, ia melihat bayangannya sendiri berimpit dengan bayangan orang lain: Ahyi yang mengusap jendela, Roni yang membuka lemari dapur. Bayangan itu bertemu di tengah, tipis, rentan, lalu berpisah seperti dua kalimat yang tidak berhak mengakhiri satu sama lain.

Siang merayap, suara panci dari dapur menjadi latar ritmis. Nasi mengepul, telur dadar mengembang seperti pelampung kecil, sambal meminjam pedas yang sopan. Mereka makan seperti orang yang menerima kenyataan: tidak perlu semua hal terasa hebat untuk bisa disebut benar.

Setelah makan, Roni kembali ke balai desa—ada urusan tanda tangan yang mati suri. Ahyi mencuci piring, bunyi piring melawan piring menjadi musik kecil yang menertawakan hari. Ridhan duduk di serambi, kamera di lutut, membuka ulang foto-foto pagi: daun jati, papan larangan, batu dengan lumut, garis air yang menolak lurus.

Di salah satu frame, punggung Ahyi berdiri di tepi danau—tidak medium shot, tidak close up. Di antara tubuhnya dan bibir tanah ada ruang dua jari; udara di sana tampak tebal, seolah menahan napas. Ridhan memperbesarnya. Tidak tajam di rambut. Tidak tajam di kain. Tajam pada jarak. Ia menutup layar.

“Subjek senja,” katanya pelan, kali ini dengan nada seseorang yang menamai bayi tapi menyimpannya sendiri.

“Kalau kamu kasih nama, kamu harus tahu caranya memanggil tanpa mengganggu,” suara Pak Tarya datang dari pintu, seperti angin yang mengenali lubang kecil di tembok.

“Pak,” sapa Ridhan, menoleh. “Masuk.”

“Masuk itu kata yang berbahaya di desa,” kata Pak Tarya, duduk tanpa menunggu. “Orang bisa tersesat di ruang tamu.”

“Katakan saja sesuatu, Pak,” ujar Ridhan, menahan senyum terdidik. “Saya jarang memanggil orang ke pikiranku.”

“Kalau begitu, aku panggil diriku sendiri.” Pak Tarya menepuk lututnya. “Danau di barat itu, cantik untuk orang yang sudah memutuskan besoknya tidak perlu datang.”

“Saya sudah minta data,” kata Ridhan. “Sebelum ada data, tidak ada deck, tidak ada lampu, tidak ada tiket.”

“Data yang bagus,” ucap Pak Tarya, “akan hilang kalau orang tidak punya alasan untuk hidup.” Ia memandang jendela. “Kentongan malam ini mungkin diam. Atau bunyi sekali. Ingat.”

“Kalau bunyi dua kali?” tanya Ridhan.

“Berarti ada yang terlalu sombong di bawah cahaya kecil,” kata Pak Tarya. “Kamu, atau orang lain.”

Ridhan menyentuh penutup lensa, menekannya hingga berbunyi halus. “Kalau saya lihat kunang-kunang?”

“Jangan buru-buru memotret,” ucap Pak Tarya. Lalu menambahkan—tidak seperti kemarin, kali ini lebih dekat, lebih pelan: “Dan kalau kamu melihatnya bersama seseorang, ucapkan kalimat yang tidak kamu punya keberanian untuk menunda. Setelah itu, mungkin kamu tidak akan diizinkan mengubahnya.”

Ridhan mengatupkan rahang, menekan lidahnya ke langit-langit mulut seperti orang menahan gugup agar tidak menjadi suara. “Saya tidak suka ancaman puitis, Pak.”

“Itu bukan ancaman. Itu penanda jalan.” Pak Tarya berdiri. “Orang kota suka tidak percaya papan kecil. Sampai mereka jatuh ke danau.”

Ahyi muncul dari dapur, tangan basah, melirik sebentar. “Pak Tarya, mau singkong rebus?”

“Kalau kau menawari, aku akan makan dua, untukmu satu.” Ia tersenyum kecil, mengambil piring, lalu pergi tanpa menunggu persetujuan atas perbandingan yang tidak adil itu.

Ridhan memperhatikan punggung lelaki tua itu. Ada sesuatu pada cara ia menutup pintu: tidak penuh. Celah kecil selalu ditinggalkan, seolah semua orang di desa harus punya opsi untuk menoleh lagi sebelum keluar betul dari cerita.

Menjelang sore, langit berlatih ungu. Angin membawa bau kayu terbakar dari dapur tetangga. Ridhan berdiri di serambi, memotret refleksi halaman di jendela: bangku tua, ember biru, kain jemuran yang menggantung malas.

Ponselnya bergetar. Amira.

“Din, council mau checkpoint,” suaranya licin. “Tante Laila minta komit—jual, kelola, atau simpan? Investor sudah mepet.”

“Simpan sampai data lengkap,” kata Ridhan. “Kalau kelola, bukan pariwisata murahan. Kalau jual, bukan sekarang.”

“Kamu tegas sekali,” Amira menahan tawa. “Di grup keluarga, beberapa orang ingin cepat. Nama besar butuh panggung.”

“Panggung membuat orang lupa pangkal,” Ridhan singkat. “Tanah ini pinjaman dari arang—kau ingat kalimat itu?”

Amira hening sejenak. “Ingat. Aku juga tumbuh dari kalimat itu.”

“Kalau begitu, sampaikan ke Tante Laila: timeline bergeser. Kenapa: karena alam tidak bisa di-brief.”

“Baik,” kata Amira, suara kotanya menipis. “Jaga dirimu, Din.”

Ridhan menutup panggilan. Ia menatap vila: cat pudar yang jujur, kusen yang menua dengan harga diri.

Di ujung serambi, Ahyi lewat dengan sisir kayu bergigi hilang satu.

“Kalau kamu ingin jalan lagi, jangan lewat tepi sungai. Kemarin ada ular kecil di sana. Dia tidak ingin menyapamu, tapi kamu mungkin ingin memotretnya.”

“Aku tidak memotret semua yang bergerak,” kata Ridhan.

“Kamu memotret yang membuatmu diam.” Ridhan menoleh. Tatapannya langsung ke mata Ahyi, tapi hanya satu detik; setelah itu ia turunkan ke dagu, lalu ke cangkir di tangannya.

“Kenapa kamu keras kepala sekali ingin sendiri?” tanya Ahyi, bukan untuk membuka hati, hanya untuk memastikan peta.

“Sendiri membuat orang tidak perlu berunding,” jawab Ridhan. “Debat membuat orang melupakan arah.”

“Kalau arah itu salah?”

“Setidaknya kesalahannya milikku.”

“Dan yang jatuh?”

“Kakiku.”

Ahyi mengangguk. “Baik.” Ia menatap jauh, melewati halaman, melewati pagar bambu, ke arah jalan tanah yang menurun. “Kalau begitu, aku akan berjalan sepuluh langkah di belakangmu. Bukan untuk menemanimu. Untuk memastikan aku bisa menagihmu besok.”

“Sepuluh langkah terlalu dekat,” kata Ridhan.

“Sepuluh langkah terlalu jauh bagi orang yang harus menarik kausmu kalau kamu lenyap.”

Kali ini, Ridhan tidak punya jawaban yang rapi. Ia menatap tajam ke arah kamera, seolah benda itu bisa menampung semua kalimat yang ingin ia buang. Penutup lensa ia buka—klik—lalu ia pasang lagi—klik—dua kali. Suara kecil itu seperti detak jam yang memecah dua menit yang terlalu panjang.

“Besok aku ke lorong lagi,” katanya akhirnya. “Barat. Aku ingin punggungku berubah.”

“Kalau punggungmu berubah, matamu ikut,” kata Ahyi.

“Kalau mataku ikut, mulutku tidak.”

“Bagus,” ujarnya. “Mulutmu perlu libur.” Ia berjalan ke dalam, tidak menoleh, membiarkan kalimat itu menggantung di udara seperti lampu minyak yang menolak padam.

Malam merapat pelan. Radio di dapur menyala, suara penyiar tua memutar lagu yang pernah diputar ayah—lagu yang melekat di cat dinding seperti jamur yang tidak berbahaya. Di luar, serangga berlatih harmoni. Di dalam, Ridhan duduk menulis di ponsel: daftar pendek yang hanya dimengerti orang yang ingin membuat besok tidak menghinanya.

Hidrologi: minta data pH (profil harian), logam terlarut (Fe, Mn, Al), TSS, BOD/COD (kalau ada, meski bukan sungai).

Kedalaman: profil batimetri sederhana—tiang ukur di tiga titik (bibir, tengah, sisi selatan).

Stabilitas tebing: uji penetration sederhana di 1 m, 2 m dari bibir.

Signage: posisi ulang, tinggi minimal 160 cm, jarak antar papan 15–20 m.

Sosialisasi: bukan poster; rapat ibu-ibu. (data empiris: teguran kolektif paling efektif).

Ia mengetik “rapat ibu-ibu” lalu menatap kata-kata itu agak lama, seperti melihat foto yang baru saja dikembangkan dan menemukan cahaya di bagian yang tidak dimaksudkan. Ia menambahkan satu baris: bila perlu: cerita. bukan ancaman. lalu mematikan layar.

Di meja, kamera berbaring dengan cara yang jujur: tidak menuntut dipakai, tapi juga tidak suka diabaikan. Ridhan mengangkatnya, menempelkan jari pada shutter tanpa menekan. Di kaca jendela, bayangannya sendiri berdiri di samping bayangan orang lain. Tiga siluet. Tiga garis hidup yang belum berhak saling mengakhiri.

“Subjek senja,” katanya, tidak lagi gumam, tetapi juga tidak minta didengar.

Kentongan dari kejauhan berbunyi sekali—tung. Ingat.

Ridhan memejamkan mata. Dingin yang biasanya datang dari AC kini datang dari udara yang baik-baik saja, dingin yang membawa pesan tanpa menuntut tanda tangan. Jangan sombong di bawah cahaya kecil. Esok, mungkin tidak ada kunang-kunang. Atau ada. Esok, mungkin jalan amblas. Atau bertahan. Esok, mungkin suara akan memilih diam. Atau akhirnya mengucapkan kalimat yang ia simpan di balik giginya.

Untuk malam ini, cukup sampai sini: peta dilipat, lensa ditutup, air di danau menahan napasnya sendiri. Besok, kalau langit setuju, ia akan turun lagi ke lorong, membawa senter dan sesuatu yang lebih ringan dari hujah—kehendak kecil untuk pulang.

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (1)
  • dwyne

    Roni sama Ahyi chemistrynya dapet banget berduaaa... Gaya bahasanya sukaa... puitis, tapi enggak yang terlalu mendayu-dayu. Ibaratnya dessert manisnya pas. Hehehehe...

    Comment on chapter Chapter 1 Jejak Langkah di Desa Tanpo Arang
Similar Tags
UNTAIAN ANGAN-ANGAN
1014      786     0     
Romance
“Mimpi ya lo, mau jadian sama cowok ganteng yang dipuja-puja seluruh sekolah gitu?!” Alvi memandangi lantai lapangan. Tangannya gemetaran. Dalam diamnya dia berpikir… “Iya ya… coba aja badan gue kurus kayak dia…” “Coba aja senyum gue manis kayak dia… pasti…” “Kalo muka gue cantik gue mungkin bisa…” Suara pantulan bola basket berbunyi keras di belakangnya. ...
Temu Yang Di Tunggu (Volume 1)
21513      5059     12     
Romance
Yang satu Meragu dan yang lainnya Membutuhkan Waktu. Seolah belum ada kata Temu dalam kamus kedua insan yang semesta satukan itu. Membangun keluarga sejak dini bukan pilihan mereka, melainkan kewajiban karena rasa takut kepada sang pencipta. Mereka mulai membangun sebuah hubungan, berusaha agar dapat di anggap rumah oleh satu sama lain. Walaupun mereka tahu, jika rumah yang mereka bangun i...
Meteor Lyrid
671      494     1     
Romance
Hujan turun begitu derasnya malam itu. Dengan sisa debu angkasa malam, orang mungkin merasa takjub melihat indahnya meteor yang menari diatas sana. Terang namun samar karna jaraknya. Tapi bagiku, menemukanmu, seperti mencari meteor dalam konstelasi yang tak nyata.
The Best Gift
119      113     1     
Inspirational
Tidak ada cinta, tidak ada keluarga yang selalu ada, tidak ada pekerjaan yang pasti, dan juga teman dekat. Nada Naira, gadis 20 tahun yang merasa tidak pernah beruntung dalam hal apapun. Hidupnya hanya dipenuhi dengan tokoh-tokoh fiksi dalam  novel-novel dan drama  kesukaannya. Tak seperti manusia yang lain, hidup Ara sangat monoton seakan tak punya mimpi dan ambisi. Hingga pertemuan dengan ...
Tak Segalanya Indah
804      556     0     
Short Story
Cinta tak pernah meminta syarat apapun
Shane's Story
2945      1308     1     
Romance
Shane memulai kehidupan barunya dengan mengubur masalalunya dalam-dalam dan berusaha menyembunyikannya dari semua orang, termasuk Sea. Dan ketika masalalunya mulai datang menghadangnya ditengah jalan, apa yang akan dilakukannya? apakah dia akan lari lagi?
Maaf katamu? Buat apa?
814      536     0     
Short Story
“Kamu berubah. Kamu bukan Naya yang dulu.” “Saya memang bukan Naya yang dulu. KAMU YANG BUAT SAYA BERUBAH!”
ARRA
1442      690     6     
Romance
Argana Darmawangsa. Pemuda dingin dengan sebentuk rahasia di balik mata gelapnya. Baginya, hidup hanyalah pelarian. Pelarian dari rasa sakit dan terbuang yang selama ini mengungkungnya. Tetapi, sikap itu perlahan runtuh ketika ia bertemu Serra Anastasya. Gadis unik yang selalu memiliki cara untuk menikmati hidup sesuai keinginan. Pada gadis itu pula, akhirnya ia menemukan kembali sebuah 'rumah'...
Salju yang Memeluk Awan [PUBLISHING IN PROCESS]
16164      3560     4     
Romance
Cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan. Di saat aku hampir menyerah, laki-laki itu datang ke dalam kehidupanku. Laki-laki itu memberikan warna di hari-hariku yang monokromatik. Warna merah, kuning, hijau, dan bahkan hitam. Ya, hitam. Karena ternyata laki-laki itu menyimpan rahasia yang kelam. Sebegitu kelamnya hingga merubah nasib banyak orang.
TWINS STORY
1671      916     1     
Romance
Di sebuah mansion yang sangat mewah tinggallah 2 orang perempuan.Mereka kembar tapi kayak nggak kembar Kakaknya fenimim,girly,cewek kue banget sedangkan adiknya tomboynya pake banget.Sangat berbeda bukan? Mereka adalah si kembar dari keluarga terkaya nomor 2 di kota Jakarta yaitu Raina dan Raina. Ini adalah kisah mereka berdua.Kisah tentang perjalanan hidup yang penuh tantangan kisah tentang ci...